Archive for the ‘Commercial Finance Report’ Category

Komponen Laporan Keuangan

07. Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen-komponen berikut ini :

a. neraca
b. laporan laba-rugi
c. laporan perubahan ekuitas
d. laporan arus kas
e. catatan atas laporan keuangan.

Penyajian Secara Wajar

10. Laporan keuangan harus menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, pengaruh entitas, dan arus kas perusahaan dengan menerapkan PSAK secara benar disertai pengungkapan yang diharuskan PSAK dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Informasi lain tetap diungkapkan untuk menghasilkan penyajian yang wajar walaupun pengungkapan tersebut tidak diharuskan oleh PSAK.

11. Apabila PSAK belum mengatur masalah pengakuan, pengukuran, penyajian atau pengungkapan dari suatu transaksi atau peristiwa, maka penyajian secara wajar dapat dicapai melalui pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi yang sesuai dengan paragraf 14 serta menyajikan jumlah yang dihasilkan sedemikian rupa sehingga memberikan informasi yang relevan, andal dapat dibandingkan dan dapat dipahami.

Kebijakan Akuntansi

14. Manajemen memilih dan menerapkan kebijakan akuntansi agar laporan keuangan memenuhi ketentuan dalam PSAK. Jika belum diatur dalam PSAK, maka manajemen harus menetapkan kebijakan untuk memastikan bahwa laporan keuangan menyajikan informasi :

a). relevan terhadap ketentuan para pengguna laporan untuk pengambilan keputusan; dan
b). dapat diandalkan, dengan pengertian :
i) mencerminkan kejujuran penyajian hasil dan posisi keuangan perusahaan;
ii) menggambarkan substansi ekonomi dari suatu kejadian atau transaksi dan tidak semata-mata bentuk hukumnya;
iii) netral yaitu bebas dari keberpihakan;
iv) mencermikan kehati-hatian; dan
v) mencakup semua hal yang material.

Kelangsungan Usaha

17. Laporan keuangan harus disusun berdasarkan asumsi kelangsungan usaha. Apabila laporan keuangan tidak disusun berdasarkan asumsi kelangsungan usaha maka kenyataan tersebut harus diungkapkan bersama dengan dasar lain yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan serta alasan mengapa asumsi kelangsungan usaha perusahaan tidak dapat digunakan.

Dasar Akrual

19. Perusahaan harus menyusun laporan keuangan atas dasar akrual, kecuali laporan arus kas.

Konsistensi Penyajian

21. Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar periode harus konsisten kecuali :

a) terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat operasi perusahaan atau perubahan penyajian akan menghasilkan penyajian yang lebih tepat atas suatu transaksi atau peristiwa; atau

b) perubahan tersebut diperkenankan oleh PSAK.

Materialitas dan Agregasi

23. Pos-pos yang material disajikan terpisah dalam laporan keuangan sedangkan yang tidak material digabungkan dengan jumlah yang memiliki sifat atau fungsi yang sejenis.

Saling Hapus (Offsetting)

25. Aktiva, kewajiban, Pos-pos penghasilan dan beban disajikan secara terpisah kecuali saling hapus diperkenankan dalam PSAK.

Informasi Komparatif

28. Informasi kuantitatif harus diungkapkan secara komparatif dengan periode sebelumnya kecuali dinyatakan lain oleh PSAK. Informasi komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari laporan keuangan periode sebelumnya diungkapkan kembali apabila relevan untuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan.

30. Apabila penyajian atau klasifikasi pos-pos dalam keuangan diubah maka penyajian periode sebelumnya direklasifikasi untuk memastikan daya banding. Sifat, jumlah serta alasan reklasifikasi harus diungkapkan. Apabila reklasifikasi tersebut tidak praktis dilakukan maka alasannya harus diungkapkan.

Identifikasi Laporan Keuangan

32. Laporan keuangan diidentifikasikan dan dibedakan secara jelas dari informasi lain dalam dokumen publikasi yang sama.

34. Setiap komponen laporan keuangan harus diidentifikasi secara jelas. Di samping itu, informasi berikut ini disajikan dan diulangi, bila perlu, pada setiap halaman laporan keuangan :

a) nama perusahaan pelapor dan identitas lain
b) cakupan laporan keuangan, apakah mencakup hanya satu entitas atau beberapa entitas
c) tanggal atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan, mana yang lebih tepat bagi setiap komponen laporan keuangan;
d) mata uang pelaporan
e) satuan angka yang digunakan dalam panyajian laporan keuangan.

Periode Pelaporan

36. Laporan keuangan setidaknya disajikan secara tahunan. Apabila tahun buku perusahaan berubah dan laporan keuangan tahunan disajikan untuk periode yang lebih panjang atau pendek dari periode satu tahun maka sebagai tambahan terhadap periode cakupan laporan keuangan, perusahaan harus mengungkapkan :

a) Alasan penggunaan periode pelaporan selain periode satu tahunan; dan
b) Fakta bahwa jumlah komparatif dalam laporan laba rugi, laporan perubahan entitas, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan tidak dapat diperbandingkan.

NERACA

Pembagian Lancar dengan Tidak Lancar dan Jangka Pendek dan Jangka Panjang.

39. Perusahaan menyajikan aktiva lancar terpisah dari aktiva tidak lancar kewajiban jangka pendek terpisah dari kewajiban jangka panjang kecuali untuk industri tertentu diatur dalam SAK khusus. Aktiva disajikan menurut ukuran likuiditas sedangkan kewajiban disajikan menurut urutan jatuh temponya.

40. Perusahaan harus mengungkapkan informasi mengenai jumlah setiap aktiva yang akan diterima dan kewajiban yang akan dibayarkan sebelum dan sesudah dua belas bulan dari tanggal neraca.

Aktiva Lancar

42. Suatu aktiva diklasifikasikan sebagai aktiva lancar, jika aktiva tersebut;
a) diperkirakan akan direalisasi atau dimiliki untuk dijual atau digunakan dalam jangka waktu siklus operasi normal perusahaan; atau
b) dimiliki untuk diperdagangkan atau untuk tujuan jangka pendek dan diharapkan akan direalisir dalam jangka waktu 12 bulan dari tanggal neraca; atau
c) berupa kas atau setara kas yang penggunaannya tidak dibatasi;

Aktiva yang tidak termasuk kategori tersebut diatas diklasifikasikan sebagai aktiva tidak lancar.

Kewajiban Jangka Pendek

44. Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek, jika :

a) diperkirakan akan diselesaikan dalam jangka waktu siklus normal operasi perusahaan; atau
b) jatuh tempo dalam jangka waktu 12 bulan dari tanggal neraca.

Semua kewajiban lainnya harus diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang.

47. Kewajiban berbunga jangka panjang tetap diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang, walaupun kewajiban tersebut akan jatuh tempo dalam jangka waktu 12 bulan sejak tanggal neraca, apabila:

a) kesepakatan awal perjanjian pinjaman untuk jangka waktu lebih dari 12 bulan;
b) perusahaan bermaksud membiayai kembali kewajibannya dengan pendanaan jangka panjang; dan
c) maksud tersebut pada huruf (b) didukung dengan pernjanjian pembiayaan kembali atau penjadualan kembali pembayaran yang resmi disepakati sebelum laporan keuangan disetujui.

Jumlah kewajiban yang dikeluarkan dari penyajian dalam kelompok kewajiban jangka pendek sesuai dengan paragraf ini beserta informasi yang mendukung penyajian tersebut harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.

Infomasi yang Disajikan dalam Neraca

49. Neraca perusahaan disajikan sedemikian rupa yang menonjolkan berbagai unsur posisi keuangan yang diperlukan bagi penyajian secara wajar. neraca, minimal mencakup pos-pos berikut :

a) aktiva berwujud;
b) aktiva tidak berwujud;
c) aktiva keuangan;
d) investasi yang diperlakukan menggunakan metode ekuitas;
e) persediaan;
f) piutang usaha dan piutang lainnya;
g) kas dan setara kas;
h) hutang usaha dan utang lainnya;
i) kewajiban yang diestimasi;
j) kewajiban berbunga jangka panjang;
k) hak minoritas; dan
l) modal saham dan pos ekuitas lainnya.

Pos, judul, dan sub-jumlah lain disajikan dalam neraca apabila diwajibkan oleh PSAK atau apabila penyampaian tersebut diperlukan untuk menyajikan posisi keuangan secara wajar.

Informasi Disajikan di Neraca atau di Catatan Atas Laporan Keuangan

53. Perusahaan harus mengungkapkan, di neraca atau di catatan atas laporan keuangan, sub-klasifikasi pos-pos yang disajikan, diklasifikasikan dengan cara yang tepat sesuai dengan operasi perusahaan. Setiap pos disub-klasifikasikan, jika memungkinkan, sesuai dengan sifatnya; dan jumlah terutang atau piutang pada perusahaan induk anak perusahaan perusahaan asosiasi dan pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa lainnya diungkapkan secara terpisah.

55. Perusahaan mengungkapkan hal-hal berikut di neraca atau dicatatkan atas laporan keuangan :

a) untuk setiap jenis saham :
i) jumlah saham modal dasar;
ii) jumlah saham yang diterbitkan dan disetor penuh;
iii) nilai nominal saham;
iv) ikhtisar perubahan jumlah saham beredar;
v) hak, keistimewaan dan pembatasan yang melekat pada setiap jenis saham, termasuk pembatasan atas dividen dan pembayaran kembali atas modal;
vi) saham perusahaan yang dikuasai oleh perusahaan itu sendiri atau oleh anak perusahaan atau perusahaan asosiasi; dan
vii) saham yang dicadangkan untuk opsi dan kontrak penjualan; termasuk nilai dan persyaratannya;

b) penjelasan mengenai sifat dan tujuan pos cadangan dalam ekuitas;
c) penjelasan apakah dividen yang diusulkan tapi secara resmi belum disetujui untuk dibayarkan telah diakui atau tidak sebagai kewajiban; dan
d) jumlah dividen saham preferen kumulatif yang belum diakui.

Perusahaan yang modalnya tidak terbagi dalam saham, seperti persekutuan, mengungkapkan informasi yang setara dengan persyaratan di atas, yang memperlihatkan perubahan dalam suatu periode dari setiap jenis pernyertaan serta hak, keistimewaan dan pembatasan yang melekat pada setiap jenis pernyertaan.

LAPORAN LABA RUGI

Informasi Disajikan dalam Laporan Laba Rugi

56. Laporan laba rugi perusahaan disajikan sedemikian rupa yang menonjolkan berbagai unsur kinerja keuangan yang diperlukan bagi penyajian secara wajar. Laporan laba rugi minimal mencakup pos-pos berikut :

a) pendapatan;
b) laba rugi usaha;
c) beban pinjaman;
d) bagian dari laba atau rugi perusahaan afiliasi dan asosiasi yang diperlakukan menggunakan metode ekuitas;
e) beban pajak;
f) laba atau rugi dari aktivitas normal perusahaan;
g) pos luar biasa;
h) hak minoritas; dan
i) laba atau rugi bersih untuk periode berjalan.

Pos, judul dan sub-jumlah lainnya disajikan dalam laporan laba rugi apabila diwajibkan oleh PSAK dan apabila penyajian tersebut diperlukan untuk menyajikan keuangan perusahaan secara wajar.

Informasi Disajikan di Laporan Laba Rugi atau di Catatan Atas Laporan Keuangan

58. Perusahaan menyajikan, di laporan laba rugi atau di catatan atas laporan keuangan, rincian beban dengan menggunakan klasifikasi yang didasarkan pada sifat atau fungsi beban di dalam perusahaan.

63. Perusahaan yang mengklasifikasikan beban menurut fungsinya harus mengungkapkan informasi tambahan mengenai sifat beban, termasuk beban penyusutan dan amortisasi serta biaya pegawai.

65. Perusahaan mengungkapkan dalam laporan laba rugi atau dalam catatan atas laporan keuangan; jumlah dividen per saham yang diumumkan.

LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

66. Perusahaan harus menyajikan laporan perubahan ekuitas sebagai komponen utama laporan keuangan, yang menunjukkan :
a) laba atau rugi bersih periode yang besangkutan;
b) setiap pos pendapatan dan beban, keuntungan dan kerugian beserta jumlahnya yang berdasarkan PSAK terkait diakui secara langsung dalam ekuitas.
c) Pengaruh kumulatif dari perubahan kebijakan akuntansi dan perbaikan terhadap kesalahan mendasar sebagaimana diatur dalam PSAK terkait.
d) Transaksi modal dengan pemilik dan distribusi kepada pemilik;
e) Saldo akumulasi laba atau rugi pada awal dan akhir periode serta perubahannya; dan
f) Rekonsiliasi antara nilai tercatat dari masing-masing jenis modal saham, agio dan cadangan pada awal dan akhir periode yang mengungkapkan secara terpisah setiap perubahan.

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

Struktur

69. Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis. Setiap pos dalam neraca, laporan laba rugi dan laporan arus kas harus berkaitan dengan informasi yang terdapat dalam catatan atas laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan mengungkapkan :

a) informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterapkan terhadap peristiwa dan transaksi yang penting;
b) informasi yang diwajibkan dalam PSAK tetapi tidak disajikan di neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas dan laporan perubahan ekuitas.
c) Informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan tetapi diperlukan dalam rangka penyajian secara wajar.

Penyajian Kebijakan Akuntansi

72. Bagian kebijakan akuntansi dalam catatan atas laporan keuangan menjelaskan hal-hal sebagai berikut :

a) dasar pengukuran dalam menyiapkan laporan keuangan;
b) kebijakan akuntansi tertentu yang diperlukan guna memahami laporan keuangan secara benar.

Pengungkapan Lain

74. Perusahaan mengungkapkan hal-hal berikut ini jika tidak diungkapkan dibagian manapun dari informasi yang dipublikasikan bersama dengan laporan keuangan :

a) domisili dan bentuk hukum perusahaan, negara tempat pendirian perusahaan, alamat kantor pusat perusahaan serta lokasi utama bisnis jika berbeda dari lokasi kantor pusat;
b) keterangan mengenai hakekat operasi dan kegiatan utama perusahaan;

c) nama perusahaan dalam grup, nama perusahaan asosiasi, nama perusahaan induk dan perusahaan holding;
d) nama anggota direksi dan komisaris; dan

e) jumlah karyawan pada akhir periode atau rata-rata jumlah karyawan selama periode yang bersangkutan.

75. Untuk setiap pinjaman atau penerbitan surat berharga yang bersifat utang dalam mata uang asing, perusahaan harus mengungkapkan informasi berikut ini :

a) karakteristik umum dari setiap pinjaman dan surat berharga yang bersifat utang termasuk informasi mengenai suku bunga dan nama kreditur;
b) nilai nominal dalam mata uang asing, jangka waktu pinjaman, tanggal jatuh tempo, jadual angsuran atau pembayaran;
c) dasar konversi utang menjadi efek lain jika pinjaman dapat dikonversi;

d) nilai kurs yang digunakan pada tanggal neraca;
e) hal penting lain, misalnya persyaratan kredit tidak dipenuhi.

Advertisements

Penyajian Laporan Arus Kas

49. Laporan arus kas harus melaporkan arus kas selama periode tertentu dan diklasifiksikan menurut aktivitas operasi investasi dan pendanaan.

Pelaporan Arus Kas dari Aktivitasi Operasi

50. Perusahaan harus melaporkan arus kas dari aktivitas operasi dengan menggunakan salah satu dari metode berikut ini :

a. metode langsung : dengan metode ini kelompok utama dari penerimaan kas bruto dan pengeluarkan kas bruto diungkapkan; atau
b. metode tidak langsung : dengan metode ini laba atau rugi bersih disesuaikan dengan mengkoreksi pengaruh dari transaksi bukan kas, penangguhan (deferral) atau akrual dari penerimaan atau pembayaran kas untuk operasi dimasa lalu dan masa depan, dan unsur penghasilan atu beban yang berkaitan dengan arus kas investasi atau pendanaan.

Pelaporan Arus Kas dari Aktivitas Investasi dan Pendanaan

51. Perusahaan harus melaporkan secara terpisah kelompok utama penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto yang berasal dari aktivitas investasi dan pendanaan, kecuali sebagaimana dijelaskan pada paragraf 21 dan 23 arus kas dilaporkan atas dasar arus kas bersih.

Pelaporan Arus Kas atas Dasar Arus Kar Bersih

52. Arus kas yang berasal dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan berikut ini dapat disajikan menurut arus kas bersih :

i) penerimaan dan pengeluarkan kas untuk kepentingan para pelanggan apabila arus kas tersebut lebih mencerminkan aktivitas pelanggan daripada aktivitas perusahaan; dan
ii) penerimaan dan pengeluaran kas untuk pos-pos dengan perputaran cepat, dengan volume transaksi yang besar, dan dengan jangka waktu singkat (maturity short).

53. Arus kas yang berasal dari aktivitas suatu lembaga keuangan berikut ini dapat dilaporkan dengan dasar arus kas bersih :

a) penerimaan dan pembayaran kas sehubungan dengan deposito berjangka waktu tetap;
b) penerimaan dan penarikan deposit pada lembaga keuangan lain; dan
c) pemberian dan pelunasan kredit.

Arus Kas dalam Mata Uang Asing

54. Arus kas yang berasal dari transaksi dalam valuta asing harus didukung dalam mata uang yang digunakan dalam pelaporan keuangan dengan menjabarkan jumlah mata uang asing tersebut menurut kurs pada tanggal transaksi arus kas.

55. Arus kas anak perusahaan di luar negeri dijabarkan berdasarkan kurs transaksi pada tanggal arus kas.

Pos Luar Biasa

56. Arus kas sehubungan dengan pos luar biasa harus diklasifikasi sebagai aktivitas operasi, investasi dan pendanaan sesuai dengan sifat transaksinya dan diungkapkan secara terpisah.

Bunga dan Dividen

57. Arus kas dari bunga dan dividen yang diterima dan dibayarkan, masing-masing harus diungkapkan tersendiri. Masing-masing harus diklasifikasikan secara konsisten antar periode sebagai aktivitas operasi, investasi atau pendanaan.

Pajak Penghasilan

58. Arus kas yang berkaitan dengan pajak penghasilan harus diungkapkan tersendiri dan diklasifikasikan sebagai arus kas aktivitas operasi kecuali secara spesifik dapat diidentifikasikan sebagai aktivitas pendanaan dan investasi.

Perolehan dan Pelepasan (Disposal) Anak Perusahaan dan Unit Bisnis lainnya

59. Keseluruhan arus kas yang berasal dari perolehan dan pelepasan anak perusahaan atau unit bisnis lainnya harus diungkapkan secara terpisah dan diklasifikasikan secara aktivitas investasi.

60. Perusahaan harus mengungkapkan hal-hal berikut secara keseluruhan, sehubungan dengan perolehan dan pelepasan anak perusahaan dan unit bisnis lainnya selama satu periode :

a) jumlah harga perolehan atau pelepasan;

b) bagian nilai perolehan atau pelepasan yang dibayarkan dengan kas dan setara kas;
c) jumlah kas dan setara kas pada anak perusahaan atau unit bisnis yang diperoleh atau dilepaskan; dan
d) jumlah aktiva dan kewajiban selain kas atau setara kas pada anak perusahaan atau unit bisnis yang diperoleh atau dilepaskan, diikhtisarkan berdasarkan kategori utamanya.

Transaksi bukan Kas

61. Transaksi investasi dan pendanaan yang tidak memerlukan penggunaan kas atau setara kas harus dikeluarkan dari laporan arus kas. Transaksi semacam itu harus diungkapkan sedemikian rupa pada catatan atas laporan keuangan sehingga dapat memberikan semua informasi yang relevan mengenai aktivitas investasi dan pendanaan tersebut.

Komponen Kas atau Setara Kas

62. Perusahaan harus mengungkapkan komponen kas dan setara kas dan harus menyajikan rekonsiliasi jumlah tersebut dalam laporan arus kas dengan pos yang sama yang disajikan di neraca.

Pengungkapan Lain

63. Perusahaan harus mengungkapkan jumlah saldo kas dan setara kas yang signifikan yang tidak dapat digunakan dengan bebas, oleh perusahaan atau grup usaha tersebut.

Penyajian Laporan Keuangan Interim

19. Laporan keuangan interim meliputi neraca, laporan laba rugi dan saldo interim, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan interim harus disajikan secara komparatif dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Perhitungan laba-rugi interim harus mencakup periode sejak awal tahun buku sampai dengan periode interim terakhir yang dilaporkan (year-to-date).

20. Laporan keuangan interim harus menggolongkan aktiva sebagai kelompok lancar dan tidak lancar, dan kewajiban secara kelompok jangka pendek dan jangka panjang sesuai dengan laporan keuangan tahunan. Kalau suatu aktiva dan kewajiban dapat atau harus direalisasikan dalam jangka waktu 12 bulan dari tanggal neraca interim, maka aktiva tersebut digolongkan sebagai lancar; atau kewajiban tersebut digolongkan sebagai jangka pendek; kalau tidak aktiva tersebut digolongkan sebagai tidak lancar atau kewajiban tersebut digolongkan sebagai jangka panjang.

Khusus untuk perusahaan tertentu seperti bank dan asuransi yang mempunyai metode khusus dalam penggolongan aktiva, maka penggolongan aktiva harus dilakukan sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku.

Pengungkapan Ringkasan Data Keuangan Interim

21. Apabila perusahaan melaporkan ringkasan informasi keuangan pada tanggal laporan keuangan interim, data berikut merupakan data minimum yang harus dilaporkan :

a. pendapatan atau penjualan kotor, beban, estimasi pajak penghasilan, pos luar biasa (termasuk pengaruh terhadap pajak penghasilan yang terkait), pengaruh kumulatif perubahan akuntansi, perubahan akuntansi dan laba bersih;
b. data laba bersih per saham untuk setiap periode interim yang disajikan;
c. pendapatan dan beban musiman;
d. perubahan yang penting dalam taksiran pajak penghasilan;
e. pelepasan suatu segmen usaha, pos luar biasa, transaksi tidak biasa dan tidak sering terjadi;
f. kewajiban kontinjen;
g. perubahan akuntansi; dan
h. perubahan yang material pada unsur laporan arus kas.

22. Suatu perubahan kebijakan akuntansi harus diterapkan secara retrospektif dengan melaporkan jumlah setiap penyesuaian yang terjadi yang berhubungan dengan periode sebelumnya sebagai suatu penyesuaian pada saldo laba awal periode (retained earnings), kecuali jika jumlah tersebut tidak dapat ditentukan secara wajar. Informasi komparatif harus dinyatakan kembali, kecuali jika untuk melaksanakannya dianggap tidak praktis.

Pengaruh perubahan akuntansi terhadap hasil keuangan untuk periode interim pada periode interim berikutnya harus diungkapkan.

23. Laporan keuangan interim terakhir, misalnya triwulan keempat tidak perlu disusun karena pada dasarnya laporan tahunan. Dalam hal laporan keuangan interim triwulan keempat hendak diterbitkan, maka penerbitkannya dilakukan bersamaan dengan penerbitan laporan tahunan. Di samping itu, isi dari laporan keuangan interim triwulan keempat harus merupakan selisih dari laporan keuangan tahunan dan laporan keuangan interim sebelumnya tahun yang bersangkutan.

Ruang Lingkup Laporan Keuangan Konsolidasi

19. Suatu induk perusahaan yang memiliki baik langsung maupun tidak langsung melalui anak perusahaan lebih dari 50% saham berhak suara pada perusahaan lain, harus menyajikan laporan keuangan konsolidasi. Suatu perusahaan yang memiliki 50% atau kurang saham berhak suara pada perusahaan lain, wajib menyusun laporan keuangan konsolidasi apabila dapat dibuktikan bahwa pengendalian tetap ada. Laporan keuangan konsolidasi harus mengkonsolidasikan seluruh anak perusahaan baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri.

20. Anak perusahaan tidak dikonsolidasikan apabila:

(a) Pengendalian pada anak perusahaan bersifat sementara karena anak perusahaan khusus diakuisisi dengan tujuan untuk dijual kembali atau dialihkan dalam jangka pendek.
(b) Anak perusahaan dibatasi oleh suatu restriksi jangka panjang sehingga tidak mampu mengalihkan dananya kepada induk perusahaan.

Penyertaan induk perusahaan pada anak perusahaan yang memenuhi salah satu kriteria di atas harus dipertanggung jawabkan sesuai dengan PSAK No.13 tentang Akuntansi untuk Investasi.

Prosedur Konsolidasi

21. Transaksi dan saldo resiprokal antara induk perusahaan dan anak perusahaan harus dieliminasi.

22. Keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi, yang timbul dari transaksi antara induk perusahaan dan anak perusahaan, harus dieliminasi.

23. Untuk tujuan konsolidasi, tanggal pelaporan keuangan anak perusahaan pada dasarnya harus sama dengan tanggal pelaporan keuangan perusahaan induk. Apabila tanggal pelaporan tersebut berbeda maka laporan keuangan anak perusahaan dengan tanggal pelaporan yang berbeda tersebut dapat digunakan untuk tujuan konsolidasi sepanjang :

(a) Perbedaan tanggal pelaporan tersebut tidak lebih dari 3(tiga) bulan.
(b) Peristiwa atau transaksi material yang terjadi di antara tanggal pelaporan tersebut diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasi.

Apabila laporan keuangan dengan tanggal pelaporan yang berbeda (yang lebih dari 3 bulan) digunakan untuk tujuan konsolidasi, maka penyesuaian yang diperlukan harus dilakukan untuk pengaruh dari setiap peristiwa atau transaksi antar perusahaan yang signifikan, yang terjadi antara tanggal pelaporan yang berbeda tersebut.

24. Laporan keuangan konsolidasi disusun dengan menggunakan kebijakan akuntansi yang sama untuk transaksi, peristiwa dan keadaan yang sama atau sejenis. Apabila tidak mungkin digunakan kebijakan akuntansi yang sama dalam menyusun laporan keuangan konsolidasi, maka harus diungkapkan penggunaan kebijakan akuntansi yang berbeda tersebut dan proporsi unsur yang terkait dengan kebijakan akuntansi tersebut terhadap unsur sejenis dalam laporan keuangan konsolidasi.

25. Hak minoritas (minority interest) harus disajikan tersendiri dalam neraca konsolidasi antara kewajiban dan modal. Hak minoritas dalam laba disajikan tersendiri dalam laporan laba rugi konsolidasi.

26. Investasi pada anak perusahaan harus dipertanggung jawabkan sesuai dengan PSAK No.13 tentang Akuntansi untuk Investasi, terhitung sejak investasi tersebut tidak memenuhi persyaratan sebagai anak perusahaan dan juga bukan perusahaan asosiasi berdasarkan PSAK No. 15 tentang Akuntansi untuk Investasi pada Perusahaan Asosiasi.

Penyajian Tersendiri Laporan Keuangan Induk Perusahaan

27. Induk perusahaan yang memenuhi kriteria konsolidasi, tidak boleh menyajikan tersendiri laporan keuangannya (tanpa konsolidasi) sebagai laporan keuangan untuk tujuan pelaporan keuangan (general purpose financial statement). Laporan keuangan tersendiri induk perusahaan hanya dapat disajikan sebagai informasi tambahan dalam laporan keuangan konsolidasi. Dalam laporan keuangan tersendiri tersebut penyertaan pada anak perusahaan harus menggunakan metode ekuitas.

Pengungkapan

28. Pengungkapan berikut harus disajikan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasi:

(a) Daftar anak perusahaan (yang signifikan), yang antara lain mencakup: nama anak perusahaan, tempat domisili, bidang usaha dan persentase pemilikan dan persentase hak suara (apabila berbeda dengan persentase pemilikan).
(b) Alasan untuk tidak mengkonsolidasikan anak perusahaan, sebagaimana diatur pada paragraf 20.
(c) Sifat hubungan antara induk perusahaan dan anak perusahaan yang menyebabkan induk perusahaan dapat melakukan pengendalian terhadap anak perusahaan meskipun hak suara induk perusahaan, baik langsung maupun tidak langsung, 50% atau kurang.
(d) Pengaruh dari akuisisi dan penjualan atau pengalihan penyertaan pada anak perusahaan terhadap posisi keuangan dan hasil usaha konsolidasi tahun berjalan dan tahun sebelumnya.

19 Perusahaan yang menerbitkan surat berharga yang diperdagangkan pada publik, harus melaporkan informasi keuangan yang dijelaskan dalam paragraf 20-23 untuk segmen industri dan untuk segmen geografis yang dianggap signifikan bagi perusahaan.

Kalau yang disajikan meliputi baik laporan keuangan induk perusahaan maupun laporan keuangan konsolidasi, informasi segmen yang perlu disajikan hanya terbatas pada laporan keuangan konsolidasi.

20 Perusahaan harus menggambarkan aktivitas masing masing segmen industri dan menunjukkan komposisi masing masing wilayah geografis yang dilaporkan.

21 Untuk setiap segmen industri dan geografis yang dilaporkan, informasi keuangan berikut ini harus diungkapkan:

(a) penjualan atau pendapatan operasi lainnya, dibedakan antara pendapatan yang dihasilkan dari pelanggan di luar perusahaan dan pendapatan dari segmen lain,
(b) hasil segmen,
(c) aktiva segmen yang digunakan, dinyatakan dalam jumlah uang atau sebagai persentase dari jumlah yang dikonsolidasikan,
(d) dasar penetapan harga antar segmen.

22. Perusahaan harus menyajikan rekonsiliasi antara informasi segmen-segmen individual dan informasi keseluruhan dalam laporan keuangan.

23. Perubahan dalam penentuan segmen dan perubahan dalam praktek akuntansi yang digunakan dalam pelaporan informasi segmen yang membawa pengaruh material terhadap informasi segmen harus diungkapkan. Pengungkapan tersebut harus mencakupi uraian mengenai hakekat perubahan, penjelasan mengenai alasan perubahan dan pengaruh dari perubahan sepanjang informasi dapat ditentukan secara wajar.

05 Laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam tahap pengembangan menyajikan:

(a) posisi keuangan, arus kas serta hasil kegiatan pra operasi sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku di Indonesia bagi perusahaan yang telah beroperasi; dan
(b) informasi lainnya yang dipersyaratkan dalam paragraf 6.

Prinsip akuntansi yang berlaku umum berlaku bagi setiap perusahaan dalam tahap pengembangan baik dalam pengakuan pendapatan maupun dalam menentukan apakah biaya dibukukan sebagai beban pada periode berjalan atau ditangguhkan pembebanannya (dikapitalisasi) untuk disusutkan/ diamortisasi selama beberapa periode sesuai dengan pemulihan manfaatnya dimasa depan. Penangguhan pembebanan tersebut hanya terbatas pada biaya-biaya yang memiliki manfaat di masa depan yang antara lain meliputi beban pendirian perusahaan .

06. Laporan keuangan pokok dan informasi lainnya yang perlu disajikan meliputi:

(a) Neraca, termasuk kerugian kumulatif yang dilaporkan dengan judul yang jelas seperti “kerugian kumulatif selama tahap pengembangan” dalam kelompok ekuitas.
(b) Laporan Laba Rugi yang menunjukan jumlah pendapatan dan beban selama periode, termasuk jumlah kumulatif sejak pendirian perusahaan.

(c) Laporan Arus Kas yang menunjukkan sumber dan penggunaan kas dan setara kas setiap periode, termasuk jumlah kumulatif sejak pendirian perusahaan.

(d) Untuk setiap emisi, suatu Laporan Ekuitas yang menunjukan (sejak pendirian perusahaan):
(i) tanggal dan jumlah saham atau instrumen-instrumen permodalan lainnya.
(ii) jumlah uang (per lembar dan total) baik kas maupun non kas sebagai penukar dari saham atau instrumen permodalan lainnya yang dikeluarkan perusahaan.
(iii) jumlah yang dibayar dengan aktiva non kas, hakekat dari aktiva non kas dan dasar penjabarannya.

07 Laporan keuangan harus diidentifikasikan sebagai laporan keuangan perusahaan dalam tahap pengembangan, termasuk penjelasan mengenai hakekat aktivitas tahap pengembangan yang dilaksanakan.

08 Laporan keuangan pada tahun pertama setelah perusahaan tidak lagi berada dalam tahap pengembangan harus mengungkapkan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya perusahaan masih berada dalam tahap pengembangan. Kalau laporan keuangan tahun-tahun sebelumnya disajikan untuk tujuan perbandingan, jumlah kumulatif dan informasi tambahan lainnya yang dipersyaratkan dalam paragraf 6-7 tidak perlu diungkapkan.

Pengungkapan

17. Berikut ini adalah contoh situasi transaksi antara pihak yang mempunyai hubungan istimewa mungkin memerlukan pengungkapan oleh suatu perusahaan pelapor :

a) pembelian atau penjualan barang;
b) pembelian atau penjualan properti dan aktiva lain;
c) pemberian atau penerimaan jasa;
d) pengalihan riset dan pengembangan;
e) pendanaan (termasuk pemberian pinjaman dan penyetoran modal baik secara tunai maupun dalam bentuk natural),
f) garansi dan penjaminan (collateral), dan;
g) kontrak menajemen.

18. Agar pembaca laporan keuangan dapat mendapatkan gambaran tentang pengaruh hubungan istimewa, perusahaan pelapor wajib mengungkapkan adanya hubungan istimewa bila terdapat pengendalian (control), sehubungan dengan transaksi antara pihak yang mempunyai hubungan istimewa.

19. Jika terdapat transaksi antara pihak yang mempunyai hubungan istimewa, perlu diungkapkan hakekat transaksi dan unsur-unsur transaksi yang diperlukan agar laporan keuangan tersebut dapat dimengerti. Unsur-unsur ini biasanya mencakup:

(a) suatu petunjuk mengenai volume transaksi, baik jumlahnya maunpun proporsinya,
(b) jumlah atau proporsi pos-pos terbuka (outstanding items), dan
(c) kebijakan harga.

20. Pos-pos serupa biasanya diagregasikan kecuali jika pengungkapan terpisah diperlukan agar pengaruh dari transaksi antara pihak yang mempunyai hubungan istimewa pada laporan keuangan perusahaan pelapor dapat dimengerti.