Mata Uang Pencatatan dan Pelaporan

04. Mata uang pelaporan yang digunakan oleh perusahaan di Indonesia adalah mata uang Rupiah. Perusahaan dapat menggunakan mata uang selain rupiah sebagai mata uang pelaporan hanya apabila mata uang tersebut memenuhi kriteria mata uang fungsional.

05. Mata uang pencatatan harus sama dengan mata uang pelaporan.

08. Suatu mata uang merupakan mata uang fungsional apabila memenuhi indikator berikut ini secara menyeluruh (kumulatif):

a). Indikator arus kas: arus kas yang berhubungan dengan kegiatan utama perusahaan didominasi oleh mata uang tertentu.
b). Indikator harga jual: harga jual produk perusahaan dalam periode jangka pendek sangat dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar mata uang tertentu atau produk perusahaan secara dominan dipasarkan untuk ekspor, dan
c). Indikator biaya: biaya-biaya perusahaan secara dominan sangat dipengaruhi oleh pergerakan mata uang tertentu.

12. Perlakuan akuntansi untuk transaksi dan saldo dalam mata uang non fungsional adalah sebagaimana diatur dalam PSAK 10 tentang Transaksi dalam Mata Uang Asing.

Penentuan Saldo Awal

14. Penentuan saldo awal untuk tujuan pencatatan akuntansi dilakukan dengan pengukuran kembali akun-akun laporan keuangan seolah-olah mata uang fungsional tersebut telah digunakan sejak tanggal terjadinya transaksi. Prosedur pengukuran kembali adalah sebagai berikut:

i) Aktiva dan kewajiban moneter diukur kembali dengan menggunakan kurs tanggal neraca;
ii) Aktiva dan kewajiban non-moneter serta modal saham diukur kembali dengan menggunakan kurs historis atau kurs tanggal terjadinya transaksi perolehan aktiva tetap, terjadinya kewajiban atau penyetoran modal saham;

iii) Selisih antara aktiva, kewajiban dan modal saham dalam mata uang pelaporan baru, yang merupakan hasil perhitungan prosedur (i) dan (ii) diatas, diperhitungkan pada saldo laba atau akumulasi kerugian pada periode tersebut;
iv) Pendapatan dan beban diukur kembali dengan menggunakan kurs rata-rata tertimbang selama periode yang diperbandingkan, kecuali untuk beban penyusutan aktiva tetap atau amortisasi aktiva non-moneter yang diukur kembali dengan menggunakan kurs historis aktiva yang bersangkutan;
v) Dividen diukur dengan menggunakan kurs tanggal pencatatan dividen tersebut;

vi) Prosedur (iv) dan (v) di atas akan menghasilkan selisih pengukuran kembali yang diperhitungkan pada saldo laba atau akumulasi kerugian pada periode tersebut;
vii) Selisih pengukuran kembali merupakan hasil dari perhitungan berikut: saldo laba (akumulasi kerugian) akhir tahun (hasil dari prosedur (iii)) ditambah dengan dividen (hasil dari prosedur (v)) dan dikurangi dengan hasil perhitungan laba (rugi) bersih selama periode yang diperbandingkan (hasil dari prosedur (iv)).

15. Pengukuran kembali sebagaimana diatur dalam paragraf 14, dilakukan surut hingga tahun dimana mata uang fungsional tersebut mulai berlaku.

Penyajian Komparatif

16. Laporan keuangan periode yang diperbandingkan yang tidak menggunakan mata uang fungsional, harus diukur dan disajikan kembali sesuai dengan cara yang dijelaskan pada paragraf 14 dan 15.

Perubahan Mata Uang Pencatatan dan Pelaporan

17. Perusahaan diharuskan untuk mengubah mata uang pencatatan dan pelaporan ke rupiah, apabila mata uang fungsional berubah dari bukan rupiah ke rupiah. Perubahan mata uang pencatatan dan pelaporan harus dilakukan pada awal tahun buku, tidak di tengah tahun buku.

Konsolidasi

19. Laporan keuangan konsolidasi disajikan dalam mata uang fungsional setelah mempertimbangkan indikator pada paragraf 08 terhadap induk perusahaan dan tiap anak perusahaan. Penjabaran laporan keuangan anak perusahaan ke mata uang fungsional pada laporan keuangan konsolidasi dilakukan dengan cara sebagai berikut:

i). Aktiva dan kewajiban dijabarkan dengan menggunakan kurs tanggal neraca;
ii). Ekuitas dijabarkan dengan menggunakan kurs historis;
iii). Pendapatan dan beban dijabarkan dengan menggunakan kurs rata-rata tertimbang;
iv). Dividen diukur dengan menggunakan kurs tanggal pencatatan dividen tersebut;
v). Prosedur (I) sampai (iv) di atas akan menghasilkan selisih penjabaran kembali yang disajikan dalam akun ekuitas sebagai “Selisih Penjabaran”.

Mata uang pencatatan induk perusahaan harus sama dengan mata uang pelaporan konsolidasi.

Pengungkapan

21. Perusahaan mengungkapkan hal-hal berikut ini:

a. Alasan penentuan mata uang pelaporan berdasarkan indikator pada paragraf 08;

b. Perubahan mata uang pelaporan dan alasan perubahannya:

i). Alasan perubahan berdasarkan indikator pada paragraf 08;
ii). Kurs (historis, sekarang atau rata-rata tertimbang) yang digunakan dalam pengukuran kembali atau penjabaran;
iii). Ikhtisar neraca dan laporan laba-rugi yang disajikan sebagai perbandingan dalam mata uang pelaporan sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s