7. Pada setiap tanggal neraca, perusahaan harus mereview ada atau tidaknya indikasi penurunan nilai aktiva. Jika terdapat indikasi penurunan nilai aktiva, perusahaan harus menaksir jumlah yang dapat diperoleh kembali dari aktiva tersebut.

8. Dalam mengidentifikasi terdapat atau tidaknya indikasi penurunan nilai aktiva, paling tidak perusahaan harus mempertimbangkan hal-hal berikut :

Informasi dari luar perusahaan

a) Selama periode tertentu, nilai pasar aktiva telah turun secara signifikan melebihi penurunan akibat proses normal depresiasi (amortisasi);
b) Telah terjadi dalam periode tertentu atau akan terjadi dalam waktu dekat perubahan memburuk yang signifikan dalam teknologi, pasar, kondisi ekonomi atau hukum tempat perusahaan beroperasi,atau dalam pasar produk atau jasa yang dihasilkan dari aktiva tersebut;
c) Selama periode tertentu, tarif diskonto pasar atau tingkat kembalian investasi pasar telah meningkat, dan peningkatan ini cenderung akan menurunkan nilai aktiva yang dapat diperoleh kembali secara material;

Informasi dari dalam perusahaan

d) Terdapat bukti mengenai keusangan atau kerusakan fisik aktiva;
e) Telah terjadi atau akan terjadi dalam waktu dekat perubahan signifikan yang bersifat merugikan sehubungan dengan cara penggunaan aktiva;

f) Terdapat bukti dari pelaporan internal yang menunjukkan bahwa kinerja ekonomi aktiva tidak memenuhi harapan atau akan lebih buruk dari yang diharapkan; dan akitva yang pada tahun terakhir sebleumnya disajikan sebesar nilai pakai;
g) Aliran kas sesungguhnya secara material lebih kecil dari aliran kas taksiran, sebelum diperhitungkan diskonto.

Harga Jual Neto

20. Biaya penghentian aktiva tidak termasuk:

a) Biaya yang telah diakui sebagai kewajiban; dan
b) Biaya restrukturisasi dan reorganisasi.

Nilai pakai

Dasar Penaksiran Aliran Kas Di Masa Depan

23. Dalam mengukur nilai pakai :

a) Proyeksi aliran kas harus didasarkan pada asumsi logis dan kuat, yang mencerminkan taksiran terbaik manajemen mengenai kondisi ekonomi yang mungkin akan terjadi selama masa manfaat aktiva. Manajemen harus menggunakan pertimbangan yang dapat diverifikasi secara objektif;

b) Proyeksi aliran kas jangka pendek harus didasarkan pada anggaran atau perkiraan keuangan yang telah disetujui oleh manajemen yang mempunyai wewenang untuk itu. Proyeksi aliran kas jangka pendek harus meliputi jangka waktu maksimum lima tahun, kecuali jika penggunaan jangka waktu yang lebih panjang dapat dibenarkan; dan
c) Proyeksi aliran kas jangka panjang harus didasarkan pada ekstrapolasi proyeksi jangka pendek dengan menggunakan tingkat pertumbuhan yang tetap atau semakin menurun, kecuali jika tingkat pertumbuhan yang meningkat dapat dijustifikasi. Tingkat pertumbuhan ini tidak boleh melebihi tingkat pertumbuhan jangka panjang rata-rata suatu produk, industri, negara tempat perusahaan beroperasi atau pasar produk yang dihasilkan oleh aktiva tersebut, kecuali penggunaan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dapat dijustifikasi.

Komposisi Taksiran Aliran Kas Dimasa Depan

28. Taksiran aliran kas di masa depan harus meliputi :

a) Proyeksi aliran kas masuk dari penggunaan aktiva;
b) Proyeksi aliran kas keluar yang diperlukan untuk menghasilkan aliran kas masuk dari penggunaan aktiva (termasuk aliran kas keluar untuk menyiapkan aktiva agar dapat digunakan), dan yang dapat dikaitkan secara langsung, atau dialokasikan dengan menggunakan dasar yang konsisten pada aktiva tertentu; dan
c) Aliran kas neto, jika ada, yang akan diterima (atau dibayarkan) untuk menghentikan penggunaan aktiva pada akhir masa manfaatnya.

32. Taksiran aliran kas di masa depan tidak termasuk :

a) Aliran kas keluar yang diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban yang telah diakuinya sebagai hutang;
b) Aliran kas masuk atau keluar dari aktivitas pendanaan; dan
c) Penerimaan atau pembayaran pajak penghasilan.

34. Taksiran aliran kas neto yang akan diterima (atau dibayarkan) untuk penghentian aktiva pada akhir masa manfaat harus merupakan jumlah yang diharapkan akan diperoleh perusahaan dari penghentian aktiva melalui transaksi antar pihak yang bebas, setelah dikurangi oleh taksiran biaya penghentian aktiva yang bersangkutan.

Tarif Diskonto

36. Tarif diskonto harus ditetapkan atas dasar tarif diskonto pasar sebelum pajak yang menunjukkan taksiran sekarang mengenai nilai waktu uang dan risiko spesifik yang terkait dengan aktiva yang bersangkutan.

Pengakuan dan Pengukuran Kerugian Penurunan Nilai Aktiva Tetap

41. Jika nilai yang dapat diperoleh kembali dari suatu aktiva lebih kecil dari nilai tercatatnya, nilai tercatat aktiva harus diturunkan menjadi sebesar nilai yang dapat diperoleh kembali. Penurunan tersebut merupakan rugi penurunan nilai aktiva dan harus diakui sebagai beban pada laporan laba rugi.

42. Jika jumlah taksiran kerugian penurunan nilai aktiva lebih besar dari nilai tercatat aktiva, perusahaan harus mengakui kewajiban hanya jika hal ini diwajibkan dalam PSAK lain.

43. Setelah kerugian penurunan nilai aktiva diakui, beban depresiasi (amortisasi) aktiva untuk periode yang akan datang harus disesuaikan agar mencerminkan alokasi nilai tercatat yang telah direvisi, setelah dikurangi nilai sisa (jika ada), secara sistematis selama sisa periode depresiasi (amortisasi).

Unit Penghasil Kas

46. Nilai yang dapat diperoleh kembali dari setiap aktiva harus ditaksir secara individual. Jika hal ini tidak dapat dilakukan, perusahaan harus menentukan nilai yang dapat diperoleh kembali dari unit penghasil kas.

49. Nilai tercatat unit penghasil kas harus meliputi nilai tercatat semua aktiva yang secara langsung dapat dikaitkan, atau dialokasikan dengan dasar yang andal dan konsisten pada unit penghasil kas.

51. Nilai tercatat unit penghasil kas suatu aktiva harus ditentukan dengan mengurangkan kewajiban dari nilai tercatat aktiva tersebut, hanya jika nilai yang dapat diperoleh kembali dari unit penghasil kas tidak dapat ditentukan tanpa mempertimbangkan kewajiban tersebut.

Kerugian Penurunan Nilai Unit Penghasil

55. Kerugian penurunan nilai unit penghasil kas harus diakui hanya jika nilai yang dapat diperoleh kembali dari unit tersebut lebih kecil dari jumlah agregat nilai tercatat semua aktiva dalam unit tersebut.

56. Jika nilai yang dapat diperoleh kembali dari aktiva tidak dapat ditentukan secara individual, kerugian penurunan nilai harus diakui untuk unit penghasil kas aktiva tersebut.

Goodwill and Aktiva Lain

59. Dalam beberapa hal, terdapat goodwill (atau aktiva lain) yang berhubungan dengan unit penghasil kas. Dalam menetukan apakah unit penghasil kas mengalami penurunan nilai ;

a) Langkah pertama, suatu perusahaan harus melakukan uji ‘bottom-up’: mengidentifikasi bagian nilai tercatat goodwill (atau aktiva lain) yang dapat dialokasikan secara andal dan konsisten pada unit penghasil kas. Selanjutnya perusahaan harus menentukan nilai yang dapat diperoleh kembali dari unit penghasil kas tersebut. Jika nilai yang dapat diperoleh kembali dari unit penghasil kas lebih kecil dari nilai tercatatnya (termasuk nilai tercatat goodwill atau aktiva lain yang dialokasikan, jika ada), rugi penurunan nilai unit penghasil kas harus diakui; dan
b) Langkah kedua, jika tidak terdapat dasar yang andal konsisten untuk mengalokasikan goodwill atau aktiva lain pada unit penghasil kas, perusahaan harus melakukan uji coba ‘top-down’: mengidentifikasi unit terkecil penghasil kas yang dapat dibebani alokasi goodwill atau aktiva lain yang belum dialokasikan dengan dasar alokasi yang andal dan konsisten. Selanjutnya, perusahaan harus menentukan nilai yang dapat diperoleh kembali dari unit penghasil kas. Jika nilai yang dapat diperoleh kembali dari unit penghasil kas lebih rendah dari nilai tercatat (termasuk nilai tercatat goodwill atau aktiva lain yang dialokasikan), perusahaan mengakui rugi penurunan nilai untuk unit penghasil kas tersebut.

Alokasi Kerugian Penurunan Nilai dalam Unit Penghasil Kas

62. Jika kerugian penurunan nilai diakui untuk unit penghasil kas, kerugian penurunan nilai harus dialokasikan antar semua aktiva dalam unit tersebut dengan urutan sebagai berikut :

a) Pertama, ke goodwill yang dialokasikan pada unit penghasil kas (jika ada);
b) Kedua, ke aktiva tak berwujud lain yang tidak ada pasarnya,
c) Ketiga, ke aktiva yang harga jual netonnya lebih kecil dari nilai tercatatnya; dan
d) Terakhir, ke aktiva lain dalam unit penghasil kas tersebut dengan dasar pro rata nilai tercatat setiap aktiva dalam unit tersebut.

65. Dalam mengalokasikan kerugian penurunan nilai sesuai dengan paragraf 61, nilai tercatat suatu aktiva tidak boleh diturunkan menjadi lebih rendah dari harga jual netonya, atau jika tidak terdapat harga jual neto untuk aktiva yang bersangkutan, nilai aktiva tersebut tidak boleh diturunkan menjadi nol. Kelebihan jumlah rugi penurunan nilai di atas jumlah yang telah dialokasikan pada aktiva tersebut harus dialokasiksan;

a) Pertama kali, ke aktiva yang harga jual netonya lebih kecil dari nilai tercatatnya, dengan dasar pro rata nilai tercatatnya, dan
b) Berikutnya, ke aktiva lain dalam unit penghasil kas dengan dasar pro rata nilai tercatat setiap aktiva dalam unit yang mendapat alokasi kelebihan jumlah rugi penurunan nilai.

67. Pada setiap tanggal neraca, suatu perusahaan harus melakukan review untuk menentukan apakah terdapat indikasi bahwa rugi penurunan nilai aktiva yang telah diakui pada tahun-tahun sebelumnya tidak ada lagi atau menurun. Jika terdapat indikasi demikian, perusahaan harus menaksir nilai yang dapat diperoleh kembali dari aktiva yang bersangkutan.

68. Dalam mengindentifikasi apakah kerugian penurunan nilai yang telah diakui untuk aktiva tertentu pada tahun-tahun sebelumnya tidak ada lagi atau telah turun, paling tidak perusahaan harus mempertimbangkan hal-hal berikut ini :

Informasi dari Luar Perusahaan

a) Selama periode tertentu, nilai pasar aktiva telah naik secara signifikan;
b) Telah terjadi dalam periode tertentu atau akan terjadi dalam waktu dekat perubahan signifikan yang bersifat membaik dlam teknologi, pasar, kondisi ekonomi atau legal tempat perusahaan beroperasi atau dalam pasar produk atau jasa yang dihasilkan oleh aktiva tersebut;
c) Suku bunga pasar, atau tingkat kembalian investasi lain telah turun selam periode tersebut dan diperkirakan akan meningkatkan secara material nilai yang dapat diperoleh kembali dari aktiva yang bersangkutan;

Informasi dari dalam Perusahaan

d) Telah terjadi dalam periode tertentu atau akan terjadi dalam waktu dekat perubahan signifikan yang bersifat menguntungkan dalam cara penggunaan aktiva;
e) Terdapat bukti dari pelaporan internal yang yang menunjukkan bahwa kinerja ekonomi aktiva lebih baik dari yang diperkirakan; dan

Aktiva yang pada tahun terakhir sebelumnya disajikan sebesar nilai pakainya

f) Aliran kas sesungguhnya secara material lebih besar dari yang diperkirakan, sebelum diperhitungkan diskonto.

Pemulihan Rugi Penurunan Nilai

70. Nilai tercatat aktiva yang rugi penurunan nilainya telah diakui harus dinaikkan kembali menjadi sebesar nilai yang dapat diperoleh kembali, hanya jika terjadi perubahan dalam taksiran yang digunakan untuk menentukan nilai aktiva yang dapat diperoleh kembali sejak saat terakhir kali rugi penurunan nilai diakui. Kenaikan tersebut merupakan pemulihan rugi penurunan nilai dan harus diakui segera sebagai laba dalam laporan rugi laba.

71. Kenaikan nilai tercatat aktiva tidak boleh melebihi nilai tercatat yang seharusnya diakui (dikurangi amortisasi atau depresiasi) seandainya pada tahun sebelumnya tidak ada pengakuan rugi penurunan nilai aktiva.

74. Setelah kerugian penurunan nilai aktiva dipulihkan kembali, beban depresiasi (amortisasi) aktiva di masa depan harus disesuaikan untuk mengalokasikan nilai tercatat aktiva yang telah direvisi, dikurangi nilai sisa (jika ada), dengan dasar sistematis selama sisa periode depresiasi (amortisasi).

77. Sebagai pengeculaian ketentuan pada paragraf 70, kerugian penurunan nilai yang diakui untuk goodwill dan aktiva tidak berwujud lain yang ada pasarnyaharus dipulihkan pada periode berikutnya, hanya jika kejadian spesifik eksternal yang menyebabkan pengakuan rugi penurunan nilai telah dipulihkan.

Pengungkapan

79. Untuk setiap kelompok aktiva, laporan keuangan harus mengungkapkan :

a) Rugi penurunan nilai yang diakui selama periode tersebut dan elemen laporan laba rugi yang didalamnya kerugian penurunan nilai yang telah dimasukkan; dan
b) Pemulihan kerugian penurunan nilai yang telah diakui selama periode tersebut dan elemen laporan laba rugi yang didalamnya kerugian penurunan nilai telah pulih.

82. Untuk setiap aktiva individual, atau unit penghasil kas, yang kerugian penurunan nilainya telah diakui atau dipulihkan dalam periode tertentu, laporan keuangan harus mengungkapkan :

a) Sifat aktiva (unit penghasil kas), nilai tercatatnya dan segmen yang mengoperasikan aktiva tersebut (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK No.5, Pelaporan Informasi Keuangan Menurut Segmen);
b) Jumlah kerugian penurunan nilai yang telah diakui atau dipulihkan dalam periode tersebut untuk aktiva (atau unit penghasil kas), dan kejadian serta kondisi yang menyebabkan pengakuan atau pemulihan tersebut;
c) Nilai yang digunakan untuk mengungkapkan jumlah yang dapat diperoleh kembali dari aktiva (unit penghasil kas) : harga jual neto atau nilai pakainya; dan

d) Informasi berikut ini, jika jumlah nilai yang dapat diperoleh kembali berdasarkan pada nilai pakai aktiva (unit penghasil kas):
(i) Jangka waktu yang digunakan manajemen untuk memproyeksikan aliran kas di masa depan secara jangka pendek jika jangka waktu tersebut lebih dari lima tahun, dan alasan penggunaan jangka waktu tersebut;
(ii) Tarif diskonto yang digunakan untuk ekstrapolasi proyeksi jangka pendek manajemen, dan alasan penggunaan tarif diskonto tersebut, jika tarif diskonto yang digunakan meningkat atau melebihi tingkat pertumbuhan jangka panjang rata-rata untuk produk, industri, dan negara atau negara-negara tempat perusahaan beroperasi atau untuk pasar produk yang dihasilkan oleh aktiva atau unit penghasil kas; dan
(iii) Fakta bahwa nilai pakai secara signifikan lebih besar dari harga jual neto (jika hal ini terjadi).

83. Jika nilai pakai aktiva (unit penghasil kas) telah ditentukan dalam periode tersebut dan tidak ada kerugian penurunan nilai yang telah diakui atau dipulihkan dalam periode tersebut untuk aktiva (unit penghasil kas), laporan keuangan harus mengungkapkan informasi berikut :
a) Jangka waktu yang digunakan manajemen untuk memproyeksikan aliran kas di masa depan secara jangka pendek jika jangka waktu tersebut lebih dari lima tahun, dan alasan penggunaan jangka waktu tersebut;

b) Tarif diskonto yang digunakan untuk ekstrapolasi proyeksi jangka pendek manajemen, dan lasan penggunaan tarif diskonto tersebut, jika tarif diskonto yang digunakan meningkat atau melebihi tingkat pertumbuhan jangka panjang rata-rata untuk produk, industri, dan negara atau negara-negara tempat perusahaan beroperasi atau untuk pasar produk yang dihasilkan oleh aktiva atau unit penghasil kas; dan
c) Fakta bahwa nilai pakai secara signifikan lebih besar dari harga jual neto (jika hal ini terjadi).

85. Jika nilai yang dapat diperoleh kembali dari aktiva adalah nilai pakainya, pada setiap periode berikutnya, perusahaan harus membandingkan aliran kas sesungguhnya dengan taksiran aliran kas, sebelum perhitungan diskonto, yang ditentukan pada saat nilai pakai yang terakhir kali ditentukan. Jika aliran kas sesungguhnya secara material lebih kecil dari (lebih besar dari) taksiran, perusahaan harus menaksir kembali nilai pakai yang terakhir kali ditentukan dengan menggunakan aliran kas sesungguhnya namun dengan menganggap semua asumsi lain tidak berubah. Jika penggunaan aliran kas sesungguhnya pada periode-periode sebelumnya memerlukan pengakuan atau pemulihan kerugian penurunan nilai dalam periode-periode tersebut, perusahaan harus mengungkapkan :

a) Jumlah kerugian penurunan nilai yang seharusnya diakui atau dipulihkan jika aliran kas sesungguhnya digunakan dalam menaksir nilai pakai tahun-tahun sebelumnya;

b) Jumlah setiap kerugian penurunan nilai yang telah diakui atau dipulihkan untuk aktiva selama periode sekarang; dan
c) Sifat perubahan asumsi yang menjelaskan mengapa jumlah yang diungkapkan sehubungan dengan (a) dan (b) di atas berbeda (jika hal ini terjadi)

About these ads
Comments
  1. temmy says:

    artikelnya sangat membantu dalam mengerti tentang penerapan psak 48, kalau bisa boleh enggak sekalian contoh kasusnya…

    terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s