Posts Tagged ‘Akuntansi’

Mata Uang Pencatatan dan Pelaporan

04. Mata uang pelaporan yang digunakan oleh perusahaan di Indonesia adalah mata uang Rupiah. Perusahaan dapat menggunakan mata uang selain rupiah sebagai mata uang pelaporan hanya apabila mata uang tersebut memenuhi kriteria mata uang fungsional.

05. Mata uang pencatatan harus sama dengan mata uang pelaporan.

08. Suatu mata uang merupakan mata uang fungsional apabila memenuhi indikator berikut ini secara menyeluruh (kumulatif):

a). Indikator arus kas: arus kas yang berhubungan dengan kegiatan utama perusahaan didominasi oleh mata uang tertentu.
b). Indikator harga jual: harga jual produk perusahaan dalam periode jangka pendek sangat dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar mata uang tertentu atau produk perusahaan secara dominan dipasarkan untuk ekspor, dan
c). Indikator biaya: biaya-biaya perusahaan secara dominan sangat dipengaruhi oleh pergerakan mata uang tertentu.

12. Perlakuan akuntansi untuk transaksi dan saldo dalam mata uang non fungsional adalah sebagaimana diatur dalam PSAK 10 tentang Transaksi dalam Mata Uang Asing.

Penentuan Saldo Awal

14. Penentuan saldo awal untuk tujuan pencatatan akuntansi dilakukan dengan pengukuran kembali akun-akun laporan keuangan seolah-olah mata uang fungsional tersebut telah digunakan sejak tanggal terjadinya transaksi. Prosedur pengukuran kembali adalah sebagai berikut:

i) Aktiva dan kewajiban moneter diukur kembali dengan menggunakan kurs tanggal neraca;
ii) Aktiva dan kewajiban non-moneter serta modal saham diukur kembali dengan menggunakan kurs historis atau kurs tanggal terjadinya transaksi perolehan aktiva tetap, terjadinya kewajiban atau penyetoran modal saham;

iii) Selisih antara aktiva, kewajiban dan modal saham dalam mata uang pelaporan baru, yang merupakan hasil perhitungan prosedur (i) dan (ii) diatas, diperhitungkan pada saldo laba atau akumulasi kerugian pada periode tersebut;
iv) Pendapatan dan beban diukur kembali dengan menggunakan kurs rata-rata tertimbang selama periode yang diperbandingkan, kecuali untuk beban penyusutan aktiva tetap atau amortisasi aktiva non-moneter yang diukur kembali dengan menggunakan kurs historis aktiva yang bersangkutan;
v) Dividen diukur dengan menggunakan kurs tanggal pencatatan dividen tersebut;

vi) Prosedur (iv) dan (v) di atas akan menghasilkan selisih pengukuran kembali yang diperhitungkan pada saldo laba atau akumulasi kerugian pada periode tersebut;
vii) Selisih pengukuran kembali merupakan hasil dari perhitungan berikut: saldo laba (akumulasi kerugian) akhir tahun (hasil dari prosedur (iii)) ditambah dengan dividen (hasil dari prosedur (v)) dan dikurangi dengan hasil perhitungan laba (rugi) bersih selama periode yang diperbandingkan (hasil dari prosedur (iv)).

15. Pengukuran kembali sebagaimana diatur dalam paragraf 14, dilakukan surut hingga tahun dimana mata uang fungsional tersebut mulai berlaku.

Penyajian Komparatif

16. Laporan keuangan periode yang diperbandingkan yang tidak menggunakan mata uang fungsional, harus diukur dan disajikan kembali sesuai dengan cara yang dijelaskan pada paragraf 14 dan 15.

Perubahan Mata Uang Pencatatan dan Pelaporan

17. Perusahaan diharuskan untuk mengubah mata uang pencatatan dan pelaporan ke rupiah, apabila mata uang fungsional berubah dari bukan rupiah ke rupiah. Perubahan mata uang pencatatan dan pelaporan harus dilakukan pada awal tahun buku, tidak di tengah tahun buku.

Konsolidasi

19. Laporan keuangan konsolidasi disajikan dalam mata uang fungsional setelah mempertimbangkan indikator pada paragraf 08 terhadap induk perusahaan dan tiap anak perusahaan. Penjabaran laporan keuangan anak perusahaan ke mata uang fungsional pada laporan keuangan konsolidasi dilakukan dengan cara sebagai berikut:

i). Aktiva dan kewajiban dijabarkan dengan menggunakan kurs tanggal neraca;
ii). Ekuitas dijabarkan dengan menggunakan kurs historis;
iii). Pendapatan dan beban dijabarkan dengan menggunakan kurs rata-rata tertimbang;
iv). Dividen diukur dengan menggunakan kurs tanggal pencatatan dividen tersebut;
v). Prosedur (I) sampai (iv) di atas akan menghasilkan selisih penjabaran kembali yang disajikan dalam akun ekuitas sebagai “Selisih Penjabaran”.

Mata uang pencatatan induk perusahaan harus sama dengan mata uang pelaporan konsolidasi.

Pengungkapan

21. Perusahaan mengungkapkan hal-hal berikut ini:

a. Alasan penentuan mata uang pelaporan berdasarkan indikator pada paragraf 08;

b. Perubahan mata uang pelaporan dan alasan perubahannya:

i). Alasan perubahan berdasarkan indikator pada paragraf 08;
ii). Kurs (historis, sekarang atau rata-rata tertimbang) yang digunakan dalam pengukuran kembali atau penjabaran;
iii). Ikhtisar neraca dan laporan laba-rugi yang disajikan sebagai perbandingan dalam mata uang pelaporan sebelumnya.

Pelunasan Hutang Melalui Pengalihan Aset

11. Sehubungan pelunasan hutang melalui pengalihan aset berupa tanah dan bangunan, aset lain, dan piutang kepada kreditur untuk menyelesaikan seluruh kewajibannya; debitur dapat mengakui keuntungan yang timbul sebagai akibat restrukturisasi kewajiban tersebut. Keuntungan dihitung dari selisih lebih antara (a) nilai tercatat hutang yang diselesaikan (jumlah nominal dikurangi atau ditambah dengan bunga yang terhutang dan premi, diskonto, beban keuangan, atau biaya penerbitan yang belum diamortisasi), dengan (b) nilai wajar aset yang dialihkan ke kreditur.

13. Perbedaan antara nilai wajar aset dengan nilai tercatat hutang yang diselesaikan diakui sebagai keuntungan yang timbul sebagai akibat restrukturisasi hutang sesuai dengan paragraf 22. Perbedaan antara nilai wajar dan nilai tercatat aset yang dialihkan kepada kreditur untuk penyelesaian hutang merupakan keuntungan atau kerugian atas pengalilhan aset. Debitur mengakui keuntungan atau kerugian ini dalam penentuan laba bersih dalam periode terjadinya pengalihan aset.

Pelunasan Hutang melalui Penyerahan Saham

14. Pelunasan hutang melalui penerbitan saham baru atau penyerahan saham debitur dicatat sebesar nilai wajar saham. Perbedaan antara nilai wajar saham yang diterbitkan dengan nilai tercatat hutang yang diselesaikan diakui sebagai keuntungan yang timbul sebagai akibat restrukturisasi hutang sesuai dengan paragraf 22.

Modifikasi Persyaratan Hutang

15. Dalam restrukturisasi hutang melalui modifikasi persyaratan tanpa melakukan pengalihan aset atau pemberian saham, debitur harus mencatat dampak restrukturisasi tersebut secara prospektif sejak saat restrukturisasi dilaksanakan, dan tidak boleh mengubah nilai tercatat hutang pada saat restrukturisasi, kecuali jika nilai tercatat tersebut melebihi jumlah pembayaran kas masa depan yang ditetapkan dalam persyaratan baru. Jumlah pembayaran kas masa depan harus mencakup jumlah bunga dan jumlah pokok hutang periode masa depan, tanpa memperhitungkan nilai tunainya.

17. Jika jumlah pembayaran kas masa depan sebagaimana ditetapkan dalam persyaratan baru hutang, termasuk pembayaran untuk bunga maupun untuk pokok hutang, lebih rendah dari nilai tercatat, maka debitur harus mengurangi nilai tercatat hutang ke jumlah yang sama dengan jumlah pembayaran kas masa depan sebagaimana yang ditentukan dalam persyaratan baru dan harus mengakui keuntungan yang timbul dari restrukturisasi hutang sebesar jumlah penurunan hutang sesuai dengan paragraf 22. Setelah itu, seluruh pembayaran kas yang dibayar dianggap sebagai pengurangan nilai tercatat hutang dan tidak ada beban bunga yang diakui sejak saat restrukturisasi hingga jatuh temponya.

18. Debitur tidak boleh mengakui keuntungan dari restrukturisasi hutang yang menyangkut pembayaran kas masa depan yang tidak dapat ditentukan, selama pembayaran kas masa depan maksimum tidak melebihi nilai tercatat hutang.

Kombinasi Beberapa Cara Restrukturisasi Hutang Bermasalah

20. Restrukturisasi hutang bermasalah dapat berupa penyelesaian sebagian hutang dengan pengalihan aset debitur atau pemberian saham (atau keduanya) kepada kreditur dan modifikasi persyaratan hutang yang masih tersisa.

21. Debitur harus mempertanggungjawabkan restrukturisasi hutang bermasalah yang menyangkut penyelesaian sebagian dan modifikasi persyaratan hutang sebagaimana diatur dalam paragraf 15-20; dengan cara: pertama, nilai tercatat hutang harus dikurangi dengan jumlah nila wajar aset atau pemberian saham tersebut; kedua, perbedaan antara nilai wajar dan nilai tercatat aset yang dialihkan kepada kreditur diakui sebagai keuntungan atau kerugian atas pengalihan aset dan tidak sebagai keuntungan restrukturisasi hutang; ketiga, baru setelah itu diperhitungkan jumlah pembayaran kas masa depan. Jika nilai tercatat hutang yang tersisa lebih besar dari jumlah pembayaran kas masa depan (termasuk jumlah hutang kontinjen) yang ditetapkan dalam persyaratan hutang, tanpa memperhitungkan nilai tunainya maka selisih kedua nilai tersebut baru diakui sebagai keuntungan restrukturisasi hutang sesuai paragraf 22.

Hal-hal yang Berkaitan

22. Keuntungan neto atas restrukturisasi hutang setelah pajak penghasilan terkait, diakui dalam perhitungan laba bersih untuk periode terjadinya restrukturisasi dan diklasifikasikan sebagai pos luar biasa.

23. Jika restrukturisasi hutang menyangkut jumlah hutang kontinjen, maka jumlah kontinjen tersebut diakui sebagai pokok hutang dan sebagai beban bunga masa depan. Oleh karena itu, secara umum beban bunga untuk pembayaran kontinjen diakui sesuai PSAK 8 dalam periode (a) hutang telah diakui dan (b) jumlah hutang tersebut dapat diperkirakan. Sebelum pengakuan suatu hutang kontinjen dan beban bunga kontinjen, jumlah hutang atau pembayaran kontinjen tersebut harus dikurangkan dari nilai tercatat hutang yang direstrukturisasi hanya sampai batas dimana penghitungan pembayaran hutang kontinjen tersebut dalam jumlah pembayaran kas masa depan berdasarkan persyaratan baru tidak mengakibatkan pengakuan keuntungan pada saat restrukturisasi.

25. Biaya-biaya lain yang dikeluarkan oleh debitur dalam rangka pemberian saham kepada kreditur dalam restrukturisasi hutang bermasalah dikurangkan dari keuntungan. Semua biaya langsung lain yang dikeluarkan oleh debitur dalam restrukturisasi hutang bermasalah dikurangkan dalam perhitungan keuntungan restrukturisasi hutang atau harus dicatat sebagai biaya untuk periode terjadinya restrukturisasi, jika tidak ada keuntungan yang diperoleh pada saat restrukturisasi.

Pengungkapan oleh Debitur

26. Debitur harus mengungkapkan, di dalam laporan keuangan atau dalam catatan atas laporan keuangan, informasi tentang restrukturisasi hutang bermasalah yang terjadi dalam periode yang dicakup oleh laporan keuangan:

a)Untuk setiap restrukturisasi mengenai penjelasan tentang pokok-pokok perubahan persyaratan hutang-piutang dan penyelesaian hutang.
b)Jumlah keuntungan atas restrukturisasi hutang dan dampak pajak penghasilan yang terkait.
c)Jumlah keuntungan atau kerugian bersih atas pengalihan aset yang diakui selama periode tersebut.

27. Debitur harus mengungkapkan jumlah hutang kontinjen yang dimasukkan ke dalam nilai tercatat yang telah direstrukturisasi dalam laporan keuangan untuk periode setelah restrukturisasi hutang bermasalah.

Modifikasi Persyaratan Piutang

30. Dalam restrukturisasi piutang bermasalah dengan modifikasi persyaratan piutang yang tidak mengakibatkan penerimaan aset (termasuk penerimaan saham dari debitur), kreditur harus mencatat dampak restrukturisasi tersebut secara prospektif dan tidak mengubah nilai tercatat piutang pada tanggal restrukturisasi, kecuali jika jumlahnya melebihi nilai tunai penerimaan kas masa depan yang ditentukan dalam persyaratan baru. Dampak perubahan jumlah atau saat jatuh tempo (atau keduanya) penerimaan kas yang diperuntukkan baik sebagai bunga maupun pokok piutang diakui secara prospektif dalam periode yang akan datang.

31. Namun jika jumlah nilai tunai penerimaan kas masa depan sebagaimana yang ditentukan dalam persyaratan baru piutang tersebut, termasuk penerimaan bunga dan pokok piutang, lebih rendah daripada saldo piutang sebelum restrukturisasi, kreditur harus mengurangi saldo piutang ke suatu jumlah yang sama dengan jumlah nilai tunai penerimaan kas masa depan sebagaimana yang ditetapkan dalam persyaratan baru. Jumlah pengurangan tersebut harus diakui sebagai kerugian. Setelah itu, semua penerimaan kas berdasarkan persyaratan piutang yang telah direstrukturisasi, baik untuk bunga maupun pokok piutang, dicatat sebagai pengembalian pokok piutang dan penghasilan bunga sesuai dengan proporsinya.

32. Dalam penetuan kerugian restrukturisasi jumlah pembayaran kontinjen dimasukkan dalam perhitungan nilai tunai jumlah penerimaan kas masa depan yang ditetapkan sesuai dengan persyaratan baru, hanya jika pada saat restrukturisasi jumlah kontinjen tersebut memenuhi persyaratan untuk diakui (probable). Hal ini berarti, kreditur mengakui kerugian atas jumlah penerimaan kontinjen kas masa depan pada saat restrukturisasi dilakukan.

Kombinasi Beberapa Cara Restrukturisasi Piutang Bermasalah

33. Restrukturisasi piutang bermasalah dapat dilakukan dengan penerimaan aset (termasuk perolehan saham dari debitur) sebagai penyelesaian sebagian piutang dan modifikasi persyaratan terhadap sisa piutang. Kreditur mencatat restrukturisasi piutang tersebut dengan mengakui aset yang diterima sebesar nilai wajarnya dikurangi estimasi biaya untuk menjualnya dan mengurangi nilai piutang yang tercatat dengan nilai wajar aset tersebut setelah dikurangi estimasi biaya untuk menjualnya. Kelebihan saldo piutang setelah restrukturisasi diakui sebagai kerugian restrukturisasi.

Hal-hal yang Berkaitan

35. Jika restrukturisasi piutang bermasalah mencakup jumlah piutang kontinjen, atas jumlah piutang kontinjen tersebut tidak boleh diakui penghasilan bunga dalam periode masa depan, sebelum jumlah piutang kontinjen tersebut memenuhi persyaratan untuk diakui sebagai piutang nyata dan penghasilan bunga diterima.

36. Biaya-biaya lain yang dikeluarkan oleh kreditur dalam restrukturisasi piutang bermasalah dicatat sebagai biaya pada saat terjadinya.

Penggantian atau Penambahan Debitur

37. Restrukturisasi piutang bermasalah dapat mencakup piutang oleh perusahaan lain, individu, atau lembaga pemerintah yang menangani piutang bermasalah atau menambah debitur lain. Restrukturisasi seperti ini dicatat sesuai dengan substansinya, meskipun pembayaran kepada kreditur dilakukan oleh debitur pengganti atau debitur tambahan tersebut.

Perlakuan ini juga berlaku dalam hal melibatkan agen, wali amanat, atau pihak lain.

Pengungkapan oleh Kreditur

39. Kreditur harus mengungkapkan dalam laporan keuangan pokok atau dalam catatan atas laporan keuangan, informasi yang berkaitan dengan restrukturisasi piutang bermasalah pada tanggal neraca sebagai berikut:

a)Saldo piutang yang persyaratannya telah dimodifikasi dalam restrukturisasi putang bermasalah, menurut kelompok utama sebagai berikut:
(i) saldo piutang dan saldo penyisihan piutang tak tertagih yang bersangkutan dengan saldo piutang tersebut, yang dibentuk berdasarkan pernyataan ini;
(ii) saldo piutang tanpa saldo penyisihan piutang tak tertagih yang dibentuk berdasarkan pernyataan ini.
b)Kebijakan akuntansi untuk pengakuan pendapatan bunga atas piutang bermasalah, termasuk cara pencatatan penerimaan tunai.
c)Untuk setiap periode penyajian laporan keuangan komparatif:
(i) rata-rata saldo piutang bermasalah,

(ii) pendapatan bunga yang diakui pada timbulnya piutang bermasalah,

(iii) kecuali tidak praktis, jumlah pendapatan bunga yang diakui dengan basis kas selama periode timbulnya piutang bermasalah.
d)Jumlah komitmen, jika ada, untuk meminjamkan dana tambahan kepada debitur yang persyaratan piutangnya telah dimodifikasi dalam restrukturisasi piutang bermasalah.

Instrumen Derivatif yang Melekat

14. Instrumen derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utama dan diperlakukan sebagai instrumen derivatif menurut pernyataan ini jika dan hanya jika seluruh kriteria berikut terpenuhi :

a)Karakteristik dan risiko instrumen derivatif melekat tidak secara jelas dan erat berhubungan dengan karakteristik dan risiko ekonomis kontrak utama.

b)Instrumen derivatif mencakup instrumen derivatif melekat dan kontrak utama tidak dinilai kembali sesuai dengan nilai wajarnya berdasarkan prinsip akuntansi yang diterima umum.
c)Instrumen terpisah dengan kondisi yang sama dengan instrumen derivatif melekat, menurut paragraf 5-12, adalah instrumen dervatif yang tunduk pada persyaratan pernyataan ini. (Investasi awal bersih untuk instrumen derivatif majemuk tidak boleh dianggap sebagai investasi awal bersih untuk derivatif melekat).

15. Untuk tujuan penerapan ketentuan pada paragraf 14, instrumen derivatif melekat dengan variabel pokok berupa tingkat bunga atau index tingkat bunga yang mempengaruhi jumlah pembayaran bunga bersih yang akan dibayar atau diterima atas kontrak utama yang dibebani bunga dianggap memiliki hubungan yang jelas dan erat dengan kontrak utama kecuali memenuhi salah satu kondisi berikut :

a)Instrumen majemuk yang secara kontraktual dapat diselesaikan secara terpisah, sehingga investor tidak akan menerima pengembalian investasi awal menyeluruh (secara substansi).
b)Derivatif melekat setidaknya dapat menggandakan tingkat pengembalian awal atas kontrak utama, dan juga menghasilkan tingkat pengembalian minimal dua kali dari tingkat pengembalian investasi yang berlaku di pasar untuk kontrak dengan kondisi yang sama dengan kontrak utama dan yang melibatkan debitor dengan kualitas kredit yang sama.

Pengakuan Transaksi Derivatif dan Penilaian Derivatif dan Saldo Transaksi yang di Lindung Nilainya

20. Suatu entitas harus mengakui seluruh instrumen derivatifnya di dalam laporan posisi keuangan sebagai aktiva atau kewajiban berdasarkan hak atau kewajiban menurut perjanjian. Seluruh instrumen derivatif harus disajikan dengan nilai wajar.

23. Laba dan rugi dari instrumen derivatif diperhitungkan seperti dijelaskan pada paragraf 24-27.

24. Bukan untuk lindung nilai. Laba atau rugi dari suatu instrumen derivatif yang tidak diperlakukan sebagai instrumen lindung nilai harus diakui sebagai pendapatan periode berjalan.

25. Lindung nilai atas nilai wajar. Laba atau rugi dari suatu instrumen derivatif yang diperlakukan sebagai dan memenuhi persyaratan sebagai instrumen lindung nilai atas nilai wajar dan saling hapus rugi atau laba akibat risiko terhadap aktiva/kewajiban yang dilindungi harus diakui sebagai laba/rugi dalam periode akuntansi yang sama, (sebagaimana dijelaskan dalam paragraf 32, 33 dan 34).

26. Lindung nilai arus kas. Bagian efektif dari laba atau rugi dari suatu instrumen derivatif yang diperlakukan sebagai dan memenuhi persyaratan sebagai instrumen lindung nilai arus kas harus dilaporkan sebagai bagian dari ekuitas (hanya diakui dalam laporan rugi laba) pada periode yang sama dengan periode dimana arus kas yang dilindungi mempengaruhi laporan rugi laba, (sebagaimana dijelaskan pada paragraf 44 dan 46). Sisa laba atau rugi dari instrumen derivatif, apabila ada, harus diakui sebagai laba/rugi periode berjalan, (sebagaimana dijelaskan pada paragraf 44).

27. Lindung nilai valuta asing. Laba atau rugi dari lindung nilai instrumen derivatif atau instrumen keuangan bukan-derivatif yang diperlakukan dan memenuhi persyaratan sebagai instrumen nilai wajar valuta asing harus diperhitungkan sebagai berikut :

(a)Laba atau rugi dari instrumen derivatif atau instrumen lain-nya yang digunakan sebagai lindung nilai atas komitmen (ikatan) yang didenominasi dalam valuta asing dan saling hapus rugi atau laba dari komitmen usaha yang dilindung nilainya harus diakui sebagai laba/rugi dalam periode akuntansi yang sama, (seperti dijelaskan pada paragraf 55).

(b)Laba atau rugi dari instrumen derivatif lindung nilai dalam suatu lindung nilai atas surat berharga yang tersedia untuk dijual dan saling hapus rugi atau laba dari surat berharga yang tersedia untuk dijual yang dilindungi harus diakui sebagai laba/rugi dalam periode akuntansi yang sama, (seperti dijelaskan pada paragraf 56).
(c)Bagian efektif dari laba atau rugi dari instrumen derivatif lindung nilai dalam suatu lindung nilai atas transaksi diperkirakan akan terjadi yang didenominasi dalam valuta asing harus diakui sebagai laba/rugi dalam periode yang sama atau periode dimana transaksi yang diperkirakan akan terjadi akan mempengaruhi pendapatan, (seperti dijelaskan pada paragraf 60). Sisa laba atau rugi dari instrumen lindung nilai diakui sebagai laba/rugi periode berjalan.
(d)Bagian efektif laba atau rugi dari instrumen derivatif dan non-derivatif lindung nilai dalam suatu lindung nilai atas investasi bersih dalam kegiatan operasi luar negeri harus dilaporkan sebagai bagian dari penyesuaian penjabaran kumulatif, (seperti dijelaskan pada paragraf 61).

Transaksi Saldo yang Di Lindung Nilainya

32. Laba atau rugi atas nilai wajar yang memenuhi persyaratan lindung nilai harus diperhitungkan sebagai berikut :

a)Laba atau rugi instrumen lindung nilai harus diakui dalam pendapatan periode berjalan.
b)Laba atau rugi (perubahan nilai wajar) dari aktiva/kewajiban yang dilindungi yang diakibatkan risiko yang dilindungi mengakibatkan penyesuaian terhadap nilai tercatat dari aktiva/kewajiban yang dilindungi dan diakui sebagai laba/rugi periode berjalan.

34. Apabila aktiva/kewajiban yang dilindungi diukur pada nilai wajar dengan perubahan nilai wajar dilaporkan sebagai bagian ekuitas (seperti surat berharga yang tersedia untuk dijual), penyesuaian untuk nilai tercatat transaksi/saldo yang dilindung nilainya sebagaimana dijelaskan pada paragraf 33 harus diakui sebagai laba/rugi dan tidak sebagai bagian ekuitas untuk saling menghapuskan laba atau rugi instrumen lindung nilai.

36. Suatu entitas dapat menghentikan secara prospektif pencatatan akuntansi seperti yang dijelaskan pada paragraf 33 dan 34 lindung nilai apabila satu dari kondisi berikut terjadi :

a)Salah satu kriteria dalam paragraf 30 dan 31 tidak lagi dipenuhi.
b)Derivatif tidak berlaku lagi atau dijual, diakhiri atau dieksekusi.
c)Entitas membatalkan tujuan hubungan lindung nilai atau nilai wajar.

Penurunan Nilai

39. Suatu aktiva atau kewajiban yang dilindung nilainya dan diperhitungkan sesuai dengan paragraf 33-35 tetap tunduk pada persyaratan dalam penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum untuk penilaian penurunan nilai (impairment) aktiva tersebut atau untuk pengakuan peningkatan kewajiban hutang tersebut.

Lindung Nilai Arus Kas

41. Suatu entitas dapat memperlakukan instrumen derivatif sebagai lindung nilai atas risiko fluktuasi jumlah arus kas pada masa yang akan datang yang diakibatkan oleh risiko tertentu.

Lindung Nilai atas Transaksi yang Diperkirakan Akan Terjadi

48. Suatu entitas harus menghentikan perlakuan akuntansi atas lindung nilai seperti yang dijelaskan dalam paragraf 44 dan 46 sejak salah satu hal-hal berikut terjadi :

a)Salah satu kriteria dalam paragraf 41 dan 43 tidak lagi dipenuhi.
b)Derivatif telah kadaluarsa, dijual, dihentikan atau direalisasi.
c)Entitas yang bersangkutan membatalkan perlindungan nilai arus kas.

52. Jika berdasarkan persyaratan dari pinsip akuntansi yang diterima umum, suatu kerugian penurunan nilai aktiva diakui atau suatu kewajiban tambahan diakui atas kewajiban yang berhubungan dengan transaksi yang diperkirakan akan terjadi dan yang dilindungi, saldo laba bersih setelah saling hapus yang tercatat dalam akumulasi pendapatan komprehensif lain yang semula diakui dalam bagian ekuitas secara terpisah harus segera direklasifikasi menjadi laba/rugi.

Demikian juga jika pemulihan kembali nilai aktiva atau kewajiban terjadi sehubungan dengan transaksi yang diperkirakan akan terjadi, saldo rugi setelah saling hapus yang tercatat dalam pendapatan komprehensif lain yang semula diakui dalam bagian ekuitas secara terpisah harus segera direklasifikasi menjadi laba/rugi dalam periode berjalan.

Lindung Nilai Valuta Asing

53. Suatu entitas dapat melakukan lindung nilai atas risiko valutas asing, seperti dijelaskan dalam paragraf 55-61 :

a)Lindung nilai atas nilai wajar dari suatu komitmen yang belum diakui (unrecognized firm commitment) atau dari surat berharga yang tersedia untuk dijual.
b)Lindung nilai arus kas dari transaksi dalam valuta asing yang diperkirakan akan terjadi atau transaksi antar perusahaan dalam valuta asing yang diperkirakan akan terjadi.
a)Lindung nilai atas nilai investasi bersih dalam kegiatan usaha di luar negeri.

Lindung Nilai Atas Nilai Wajar Valuta Asing

57. Laba atau rugi atas transaksi lindung nilai atas nilai wajar valuta asing yang memenuhi syarat dipertanggung jawabkan sesuai dengan paragraf 23-28. Laba atau rugi atas instrumen lindung nilai non-derivatif sehubungan dengan risiko valuta asing merupakan laba atau rugi transaksi valuta asing seperti yang dijelaskan dalam PSAK 10. Laba atau rugi transaksi dalam valuta asing diakui dalam laporan laba/rugi periode berjalan bersama dengan perubahan nilai tercatat komitmen yang dilindungi.

Lindung Nilai atas Arus Kas dalam Valuta Asing

58. Suatu instrumen yang keuangan non-derivatif tidak boleh diperlakukan sebagai instrumen lindung nilai dalam lindung nilai arus kas dalam valuta asing.

Lindung Nilai Risiko Valuta Asing atas Investasi Bersih pada Kegiatan Operasi Luar Negeri

61. Suatu instrumen derivatif atau instrumen keuangan non-derivatif yang dapat menimbulkan laba/rugi transaksi dalam valuta asing, dapat diperlakukan sebagai lindung nilai atas risiko valuta asing dari suatu investasi bersih pada unit operasional di luar negeri. Laba atau rugi instrumen derivatif lindung nilai (atau laba atau rugi transaksi valuta asing dari instrumen lindung nilai non-derivatif) yang ditujukan untuk dan yang efektif sebagai lindung nilai ekonomis dari suatu investasi bersih pada kegiatan usaha di luar negeri harus dilaporkan dengan cara yang sama seperti halnya pada penyesuaian penjabaran valuta asing sebagai lindung nilai yang efektif. Investasi bersih yang dilindungi harus dipertanggungjawabkan secara konsisten sesuai dengan PSAK 11; ketentuan dalam pernyataan ini tentang pengakuan laba/rugi aktiva yang dilindungi dengan lindung nilai wajar tidak berlaku untuk lindung nilai atas investasi bersih pada kegiatan usaha di luar negeri.

Pengungkapan

62. Suatu entitas yang memiliki atau menerbitkan instrumen derivatif (atau non-derivatif yang ditujukan untuk dan memenuhi syarat sebagai instrumen lindung nilai sesuai dengan paragraf 55 & 56), harus mengungkapkan tujuan pemilikan atau penerbitan instrumen tersebut, latar belakang yang diperlukan untuk memahami tujuan tersebut, dan strategi untuk mencapai tujuan tersebut. Penjelasan yang dibuat harus dapat membedakan antara instrumen derivatif (dan instrumen non-derivatif) yang ditujukan sebagai instrumen lindung nilai wajar, instrumen derivatif yang ditujukan sebagai instrumen lindung nilai arus kas, instrumen derivatif (dan instrumen non-derivatif) yang ditujukan sebagai instrumen lindung nilai atas risiko valuta asing dari investasi bersih pada kegiatan usaha di luar negeri, dan derivatif yang lain. Penjelasan tersebut juga harus mengindikasikan kebijakan manajemen risiko entitas yang bersangkutan untuk setiap jenis lindung nilai, termasuk penjelasan mengenai aktiva/kewajiban dan jenis transaksi yang dilindungi. Untuk instrumen derivatif yang tidak ditujukan sebagai instrumen lindung nilai, penjelasan yang dibuat harus menyatakan tujuan dari aktivitas derivatif yang dilakukan.

Pengungkapan kualitatif mengenai tujuan dan strategi entitas tersebut untuk penggunaan instrumen derivatif akan lebih bermanfaat jika tujuan dan strategi dijelaskan sehubungan dengan profil manajemen risiko keseluruhan dari entitas yang bersangkutan. Jika memungkinkan, suatu entitas disarankan, tetapi tidak diharuskan untuk memberikan pengungkapan kualitatif tambahan seperti yang dijelaskan di atas.

63. Pengungkapan dalam laporan keuangan lengkap untuk setiap periode pelaporan harus meliputi hal-hal sebagai berikut :

Lindung nilai atas nilai wajar

a)Untuk instrumen derivatif, dan instrumen non-derivatif yang dapat menimbulkan laba atau rugi transaksi valuta asing sesuai dengan PSAK 10, yang ditujukan untuk dan telah memenuhi syarat sebagai instrumen lindung nilai wajar untuk masing-masing aktiva/kewajiban yang dilindungi :

1)Laba/rugi bersih yang diakui dalam periode pelaporan yang mencerminkan (a) ketidak efektifan suatu lindung nilai dan (b) komponen dari laba/rugi instrumen derivatif, jika ada, yang dikecualikan dari penilaian efektivitas suatu lindung nilai dan penjelasan mengenai dimana laba atau rugi bersih dilaporkan, dalam laporan laba rugi atau dalam laporan kinerja keuangan yang lain.
2)Jumlah laba/rugi bersih yang diakui pada saat komitmen yang dilindungi tidak lagi memenuhi syarat sebagai lindung nilai atas nilai wajar.

Lindung nilai arus kas

a)Untuk instrumen derivatif yang ditujukan untuk dan memenuhi persyaratan sebagai instrumen lindung nilai arus kas dan untuk masing-masing transaksi yang dilindungi nilainya :

1)Laba/rugi bersih yang diakui pada periode pelaporan yang mencerminkan(a)ketidakefektifan suatu lindung nilai dan (b) komponen laba atau rugi instrumen derivatif, jika ada, yang dikecualikan dari penilaian efektivitas suatu lindung nilai dan penjelasan mengenai dimana laba atau rugi bersih dilaporkan dalam laporan kinerja keuangan yang lain.
1)Penjelasan mengenai transaksi atau kejadian lain yang mengakibatkan reklasifikasi laba atau rugi yang dilaporkan dalam akumulasi pendapatan komprehensif lain yang semula dilaporkan terpisah dalam bagian ekuitas menjadi laba/rugi, dan perkiraan jumlah bersih atas laba atau rugi yang tersisa pada tanggal pelaporan yang diperkirakan akan direklasifikasi menjadi laba/rugi dalam periode 12 bulan mendatang.
2)Jangka waktu maksimum lindung nilai atas risiko fluktuasi arus kas pada masa yang akan datang untuk transaksi yang diperkirakan akan terjadi kecuali perkiraan transaksi yang berhubungan dengan pembayaran beban bunga mengambang atas instrumen keuangan yang ada.
1)Jumlah laba atau rugi yang direklasifikasi sebagai laba/rugi akibat dari dihentikannya lindung nilai arus kas, karena terdapat kemungkinan bahwa transaksi yang diperkirakan, tidak akan terjadi.

Lindung nilai investasi bersih pada kegiatan usaha di luar negeri

c)Untuk instrumen derivatif, dan instrumen non-deviratif yang dapat menimbulkan laba atau rugi transaksi valuta asing, yang ditujukan untuk dan memenuhi persyaratan sebagai instrumen lindung nilai risiko valuta asing atas investasi bersih pada kegiatan usaha luar negeri, jumlah bersih laba/rugi yang dimasukkan dalam penyesuaian penjabaran kumulatif (cumulative translation adjustments) selama periode pelaporan diungkapkan.

Pelaporan Perubahan Komponen Ekuitas

64. Suatu entitas harus menyajikan laba/rugi dari instrumen derivatif yang ditujukan dan memenuhi syarat sebagai instrumen lindung nilai arus kas, sebagai klasifikasi yang terpisah dalam bagian ekuitas lain seperti yang dijelaskan dalam paragraf 44,45 dan 60.

65. Suatu entitas harus mengungkapkan secara terpisah saldo awal dan akhir akumulasi laba dan rugi transaksi derivatif, perubahan bersih yang berhubungan transaksi lindung nilai pada periode berjalan, dan jumlah bersih dari reklasifikasi ke dalam laba/rugi yang disajikan sebagai bagian ekuitas.

Slide Hak dan Kewajiban bagi Bendahara Alokasi Dana Desa

Persanding undang-undang Existis Pajak penghasilan dengan Undang-undang nomor 36 tahun 2008

Persandingan Undang-undang PPN dengan undang-undang PPN no 42 tahun 2009

UU KUP No 28 th 2007 (batang tubuh)