Posts Tagged ‘Akuntansi’

7. Pada setiap tanggal neraca, perusahaan harus mereview ada atau tidaknya indikasi penurunan nilai aktiva. Jika terdapat indikasi penurunan nilai aktiva, perusahaan harus menaksir jumlah yang dapat diperoleh kembali dari aktiva tersebut.

8. Dalam mengidentifikasi terdapat atau tidaknya indikasi penurunan nilai aktiva, paling tidak perusahaan harus mempertimbangkan hal-hal berikut :

Informasi dari luar perusahaan

a) Selama periode tertentu, nilai pasar aktiva telah turun secara signifikan melebihi penurunan akibat proses normal depresiasi (amortisasi);
b) Telah terjadi dalam periode tertentu atau akan terjadi dalam waktu dekat perubahan memburuk yang signifikan dalam teknologi, pasar, kondisi ekonomi atau hukum tempat perusahaan beroperasi,atau dalam pasar produk atau jasa yang dihasilkan dari aktiva tersebut;
c) Selama periode tertentu, tarif diskonto pasar atau tingkat kembalian investasi pasar telah meningkat, dan peningkatan ini cenderung akan menurunkan nilai aktiva yang dapat diperoleh kembali secara material;

Informasi dari dalam perusahaan

d) Terdapat bukti mengenai keusangan atau kerusakan fisik aktiva;
e) Telah terjadi atau akan terjadi dalam waktu dekat perubahan signifikan yang bersifat merugikan sehubungan dengan cara penggunaan aktiva;

f) Terdapat bukti dari pelaporan internal yang menunjukkan bahwa kinerja ekonomi aktiva tidak memenuhi harapan atau akan lebih buruk dari yang diharapkan; dan akitva yang pada tahun terakhir sebleumnya disajikan sebesar nilai pakai;
g) Aliran kas sesungguhnya secara material lebih kecil dari aliran kas taksiran, sebelum diperhitungkan diskonto.

Harga Jual Neto

20. Biaya penghentian aktiva tidak termasuk:

a) Biaya yang telah diakui sebagai kewajiban; dan
b) Biaya restrukturisasi dan reorganisasi.

Nilai pakai

Dasar Penaksiran Aliran Kas Di Masa Depan

23. Dalam mengukur nilai pakai :

a) Proyeksi aliran kas harus didasarkan pada asumsi logis dan kuat, yang mencerminkan taksiran terbaik manajemen mengenai kondisi ekonomi yang mungkin akan terjadi selama masa manfaat aktiva. Manajemen harus menggunakan pertimbangan yang dapat diverifikasi secara objektif;

b) Proyeksi aliran kas jangka pendek harus didasarkan pada anggaran atau perkiraan keuangan yang telah disetujui oleh manajemen yang mempunyai wewenang untuk itu. Proyeksi aliran kas jangka pendek harus meliputi jangka waktu maksimum lima tahun, kecuali jika penggunaan jangka waktu yang lebih panjang dapat dibenarkan; dan
c) Proyeksi aliran kas jangka panjang harus didasarkan pada ekstrapolasi proyeksi jangka pendek dengan menggunakan tingkat pertumbuhan yang tetap atau semakin menurun, kecuali jika tingkat pertumbuhan yang meningkat dapat dijustifikasi. Tingkat pertumbuhan ini tidak boleh melebihi tingkat pertumbuhan jangka panjang rata-rata suatu produk, industri, negara tempat perusahaan beroperasi atau pasar produk yang dihasilkan oleh aktiva tersebut, kecuali penggunaan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dapat dijustifikasi.

Komposisi Taksiran Aliran Kas Dimasa Depan

28. Taksiran aliran kas di masa depan harus meliputi :

a) Proyeksi aliran kas masuk dari penggunaan aktiva;
b) Proyeksi aliran kas keluar yang diperlukan untuk menghasilkan aliran kas masuk dari penggunaan aktiva (termasuk aliran kas keluar untuk menyiapkan aktiva agar dapat digunakan), dan yang dapat dikaitkan secara langsung, atau dialokasikan dengan menggunakan dasar yang konsisten pada aktiva tertentu; dan
c) Aliran kas neto, jika ada, yang akan diterima (atau dibayarkan) untuk menghentikan penggunaan aktiva pada akhir masa manfaatnya.

32. Taksiran aliran kas di masa depan tidak termasuk :

a) Aliran kas keluar yang diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban yang telah diakuinya sebagai hutang;
b) Aliran kas masuk atau keluar dari aktivitas pendanaan; dan
c) Penerimaan atau pembayaran pajak penghasilan.

34. Taksiran aliran kas neto yang akan diterima (atau dibayarkan) untuk penghentian aktiva pada akhir masa manfaat harus merupakan jumlah yang diharapkan akan diperoleh perusahaan dari penghentian aktiva melalui transaksi antar pihak yang bebas, setelah dikurangi oleh taksiran biaya penghentian aktiva yang bersangkutan.

Tarif Diskonto

36. Tarif diskonto harus ditetapkan atas dasar tarif diskonto pasar sebelum pajak yang menunjukkan taksiran sekarang mengenai nilai waktu uang dan risiko spesifik yang terkait dengan aktiva yang bersangkutan.

Pengakuan dan Pengukuran Kerugian Penurunan Nilai Aktiva Tetap

41. Jika nilai yang dapat diperoleh kembali dari suatu aktiva lebih kecil dari nilai tercatatnya, nilai tercatat aktiva harus diturunkan menjadi sebesar nilai yang dapat diperoleh kembali. Penurunan tersebut merupakan rugi penurunan nilai aktiva dan harus diakui sebagai beban pada laporan laba rugi.

42. Jika jumlah taksiran kerugian penurunan nilai aktiva lebih besar dari nilai tercatat aktiva, perusahaan harus mengakui kewajiban hanya jika hal ini diwajibkan dalam PSAK lain.

43. Setelah kerugian penurunan nilai aktiva diakui, beban depresiasi (amortisasi) aktiva untuk periode yang akan datang harus disesuaikan agar mencerminkan alokasi nilai tercatat yang telah direvisi, setelah dikurangi nilai sisa (jika ada), secara sistematis selama sisa periode depresiasi (amortisasi).

Unit Penghasil Kas

46. Nilai yang dapat diperoleh kembali dari setiap aktiva harus ditaksir secara individual. Jika hal ini tidak dapat dilakukan, perusahaan harus menentukan nilai yang dapat diperoleh kembali dari unit penghasil kas.

49. Nilai tercatat unit penghasil kas harus meliputi nilai tercatat semua aktiva yang secara langsung dapat dikaitkan, atau dialokasikan dengan dasar yang andal dan konsisten pada unit penghasil kas.

51. Nilai tercatat unit penghasil kas suatu aktiva harus ditentukan dengan mengurangkan kewajiban dari nilai tercatat aktiva tersebut, hanya jika nilai yang dapat diperoleh kembali dari unit penghasil kas tidak dapat ditentukan tanpa mempertimbangkan kewajiban tersebut.

Kerugian Penurunan Nilai Unit Penghasil

55. Kerugian penurunan nilai unit penghasil kas harus diakui hanya jika nilai yang dapat diperoleh kembali dari unit tersebut lebih kecil dari jumlah agregat nilai tercatat semua aktiva dalam unit tersebut.

56. Jika nilai yang dapat diperoleh kembali dari aktiva tidak dapat ditentukan secara individual, kerugian penurunan nilai harus diakui untuk unit penghasil kas aktiva tersebut.

Goodwill and Aktiva Lain

59. Dalam beberapa hal, terdapat goodwill (atau aktiva lain) yang berhubungan dengan unit penghasil kas. Dalam menetukan apakah unit penghasil kas mengalami penurunan nilai ;

a) Langkah pertama, suatu perusahaan harus melakukan uji ‘bottom-up’: mengidentifikasi bagian nilai tercatat goodwill (atau aktiva lain) yang dapat dialokasikan secara andal dan konsisten pada unit penghasil kas. Selanjutnya perusahaan harus menentukan nilai yang dapat diperoleh kembali dari unit penghasil kas tersebut. Jika nilai yang dapat diperoleh kembali dari unit penghasil kas lebih kecil dari nilai tercatatnya (termasuk nilai tercatat goodwill atau aktiva lain yang dialokasikan, jika ada), rugi penurunan nilai unit penghasil kas harus diakui; dan
b) Langkah kedua, jika tidak terdapat dasar yang andal konsisten untuk mengalokasikan goodwill atau aktiva lain pada unit penghasil kas, perusahaan harus melakukan uji coba ‘top-down’: mengidentifikasi unit terkecil penghasil kas yang dapat dibebani alokasi goodwill atau aktiva lain yang belum dialokasikan dengan dasar alokasi yang andal dan konsisten. Selanjutnya, perusahaan harus menentukan nilai yang dapat diperoleh kembali dari unit penghasil kas. Jika nilai yang dapat diperoleh kembali dari unit penghasil kas lebih rendah dari nilai tercatat (termasuk nilai tercatat goodwill atau aktiva lain yang dialokasikan), perusahaan mengakui rugi penurunan nilai untuk unit penghasil kas tersebut.

Alokasi Kerugian Penurunan Nilai dalam Unit Penghasil Kas

62. Jika kerugian penurunan nilai diakui untuk unit penghasil kas, kerugian penurunan nilai harus dialokasikan antar semua aktiva dalam unit tersebut dengan urutan sebagai berikut :

a) Pertama, ke goodwill yang dialokasikan pada unit penghasil kas (jika ada);
b) Kedua, ke aktiva tak berwujud lain yang tidak ada pasarnya,
c) Ketiga, ke aktiva yang harga jual netonnya lebih kecil dari nilai tercatatnya; dan
d) Terakhir, ke aktiva lain dalam unit penghasil kas tersebut dengan dasar pro rata nilai tercatat setiap aktiva dalam unit tersebut.

65. Dalam mengalokasikan kerugian penurunan nilai sesuai dengan paragraf 61, nilai tercatat suatu aktiva tidak boleh diturunkan menjadi lebih rendah dari harga jual netonya, atau jika tidak terdapat harga jual neto untuk aktiva yang bersangkutan, nilai aktiva tersebut tidak boleh diturunkan menjadi nol. Kelebihan jumlah rugi penurunan nilai di atas jumlah yang telah dialokasikan pada aktiva tersebut harus dialokasiksan;

a) Pertama kali, ke aktiva yang harga jual netonya lebih kecil dari nilai tercatatnya, dengan dasar pro rata nilai tercatatnya, dan
b) Berikutnya, ke aktiva lain dalam unit penghasil kas dengan dasar pro rata nilai tercatat setiap aktiva dalam unit yang mendapat alokasi kelebihan jumlah rugi penurunan nilai.

67. Pada setiap tanggal neraca, suatu perusahaan harus melakukan review untuk menentukan apakah terdapat indikasi bahwa rugi penurunan nilai aktiva yang telah diakui pada tahun-tahun sebelumnya tidak ada lagi atau menurun. Jika terdapat indikasi demikian, perusahaan harus menaksir nilai yang dapat diperoleh kembali dari aktiva yang bersangkutan.

68. Dalam mengindentifikasi apakah kerugian penurunan nilai yang telah diakui untuk aktiva tertentu pada tahun-tahun sebelumnya tidak ada lagi atau telah turun, paling tidak perusahaan harus mempertimbangkan hal-hal berikut ini :

Informasi dari Luar Perusahaan

a) Selama periode tertentu, nilai pasar aktiva telah naik secara signifikan;
b) Telah terjadi dalam periode tertentu atau akan terjadi dalam waktu dekat perubahan signifikan yang bersifat membaik dlam teknologi, pasar, kondisi ekonomi atau legal tempat perusahaan beroperasi atau dalam pasar produk atau jasa yang dihasilkan oleh aktiva tersebut;
c) Suku bunga pasar, atau tingkat kembalian investasi lain telah turun selam periode tersebut dan diperkirakan akan meningkatkan secara material nilai yang dapat diperoleh kembali dari aktiva yang bersangkutan;

Informasi dari dalam Perusahaan

d) Telah terjadi dalam periode tertentu atau akan terjadi dalam waktu dekat perubahan signifikan yang bersifat menguntungkan dalam cara penggunaan aktiva;
e) Terdapat bukti dari pelaporan internal yang yang menunjukkan bahwa kinerja ekonomi aktiva lebih baik dari yang diperkirakan; dan

Aktiva yang pada tahun terakhir sebelumnya disajikan sebesar nilai pakainya

f) Aliran kas sesungguhnya secara material lebih besar dari yang diperkirakan, sebelum diperhitungkan diskonto.

Pemulihan Rugi Penurunan Nilai

70. Nilai tercatat aktiva yang rugi penurunan nilainya telah diakui harus dinaikkan kembali menjadi sebesar nilai yang dapat diperoleh kembali, hanya jika terjadi perubahan dalam taksiran yang digunakan untuk menentukan nilai aktiva yang dapat diperoleh kembali sejak saat terakhir kali rugi penurunan nilai diakui. Kenaikan tersebut merupakan pemulihan rugi penurunan nilai dan harus diakui segera sebagai laba dalam laporan rugi laba.

71. Kenaikan nilai tercatat aktiva tidak boleh melebihi nilai tercatat yang seharusnya diakui (dikurangi amortisasi atau depresiasi) seandainya pada tahun sebelumnya tidak ada pengakuan rugi penurunan nilai aktiva.

74. Setelah kerugian penurunan nilai aktiva dipulihkan kembali, beban depresiasi (amortisasi) aktiva di masa depan harus disesuaikan untuk mengalokasikan nilai tercatat aktiva yang telah direvisi, dikurangi nilai sisa (jika ada), dengan dasar sistematis selama sisa periode depresiasi (amortisasi).

77. Sebagai pengeculaian ketentuan pada paragraf 70, kerugian penurunan nilai yang diakui untuk goodwill dan aktiva tidak berwujud lain yang ada pasarnyaharus dipulihkan pada periode berikutnya, hanya jika kejadian spesifik eksternal yang menyebabkan pengakuan rugi penurunan nilai telah dipulihkan.

Pengungkapan

79. Untuk setiap kelompok aktiva, laporan keuangan harus mengungkapkan :

a) Rugi penurunan nilai yang diakui selama periode tersebut dan elemen laporan laba rugi yang didalamnya kerugian penurunan nilai yang telah dimasukkan; dan
b) Pemulihan kerugian penurunan nilai yang telah diakui selama periode tersebut dan elemen laporan laba rugi yang didalamnya kerugian penurunan nilai telah pulih.

82. Untuk setiap aktiva individual, atau unit penghasil kas, yang kerugian penurunan nilainya telah diakui atau dipulihkan dalam periode tertentu, laporan keuangan harus mengungkapkan :

a) Sifat aktiva (unit penghasil kas), nilai tercatatnya dan segmen yang mengoperasikan aktiva tersebut (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK No.5, Pelaporan Informasi Keuangan Menurut Segmen);
b) Jumlah kerugian penurunan nilai yang telah diakui atau dipulihkan dalam periode tersebut untuk aktiva (atau unit penghasil kas), dan kejadian serta kondisi yang menyebabkan pengakuan atau pemulihan tersebut;
c) Nilai yang digunakan untuk mengungkapkan jumlah yang dapat diperoleh kembali dari aktiva (unit penghasil kas) : harga jual neto atau nilai pakainya; dan

d) Informasi berikut ini, jika jumlah nilai yang dapat diperoleh kembali berdasarkan pada nilai pakai aktiva (unit penghasil kas):
(i) Jangka waktu yang digunakan manajemen untuk memproyeksikan aliran kas di masa depan secara jangka pendek jika jangka waktu tersebut lebih dari lima tahun, dan alasan penggunaan jangka waktu tersebut;
(ii) Tarif diskonto yang digunakan untuk ekstrapolasi proyeksi jangka pendek manajemen, dan alasan penggunaan tarif diskonto tersebut, jika tarif diskonto yang digunakan meningkat atau melebihi tingkat pertumbuhan jangka panjang rata-rata untuk produk, industri, dan negara atau negara-negara tempat perusahaan beroperasi atau untuk pasar produk yang dihasilkan oleh aktiva atau unit penghasil kas; dan
(iii) Fakta bahwa nilai pakai secara signifikan lebih besar dari harga jual neto (jika hal ini terjadi).

83. Jika nilai pakai aktiva (unit penghasil kas) telah ditentukan dalam periode tersebut dan tidak ada kerugian penurunan nilai yang telah diakui atau dipulihkan dalam periode tersebut untuk aktiva (unit penghasil kas), laporan keuangan harus mengungkapkan informasi berikut :
a) Jangka waktu yang digunakan manajemen untuk memproyeksikan aliran kas di masa depan secara jangka pendek jika jangka waktu tersebut lebih dari lima tahun, dan alasan penggunaan jangka waktu tersebut;

b) Tarif diskonto yang digunakan untuk ekstrapolasi proyeksi jangka pendek manajemen, dan lasan penggunaan tarif diskonto tersebut, jika tarif diskonto yang digunakan meningkat atau melebihi tingkat pertumbuhan jangka panjang rata-rata untuk produk, industri, dan negara atau negara-negara tempat perusahaan beroperasi atau untuk pasar produk yang dihasilkan oleh aktiva atau unit penghasil kas; dan
c) Fakta bahwa nilai pakai secara signifikan lebih besar dari harga jual neto (jika hal ini terjadi).

85. Jika nilai yang dapat diperoleh kembali dari aktiva adalah nilai pakainya, pada setiap periode berikutnya, perusahaan harus membandingkan aliran kas sesungguhnya dengan taksiran aliran kas, sebelum perhitungan diskonto, yang ditentukan pada saat nilai pakai yang terakhir kali ditentukan. Jika aliran kas sesungguhnya secara material lebih kecil dari (lebih besar dari) taksiran, perusahaan harus menaksir kembali nilai pakai yang terakhir kali ditentukan dengan menggunakan aliran kas sesungguhnya namun dengan menganggap semua asumsi lain tidak berubah. Jika penggunaan aliran kas sesungguhnya pada periode-periode sebelumnya memerlukan pengakuan atau pemulihan kerugian penurunan nilai dalam periode-periode tersebut, perusahaan harus mengungkapkan :

a) Jumlah kerugian penurunan nilai yang seharusnya diakui atau dipulihkan jika aliran kas sesungguhnya digunakan dalam menaksir nilai pakai tahun-tahun sebelumnya;

b) Jumlah setiap kerugian penurunan nilai yang telah diakui atau dipulihkan untuk aktiva selama periode sekarang; dan
c) Sifat perubahan asumsi yang menjelaskan mengapa jumlah yang diungkapkan sehubungan dengan (a) dan (b) di atas berbeda (jika hal ini terjadi)

Transaksi Reksa Dana untuk Portofolio Efek

08. Transaksi portofolio efek diakui dalam laporan keuangan reksa dana pada saat timbulnya perikatan atas transaksi efek.

10. Portofolio efek dinilai berdasarkan harga pasar. Keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi akibat kenaikan atau penurunan harga pasar dilaporkan dalam laporan operasi dan perubahan aktiva bersih periode berjalan.

12. Untuk efek dalam portofolio reksa dana yang perdagangannya tidak likuid atau harga pasar yang tersedia tidak dapat diandalkan, maka efek tersebut dinilai berdasarkan nilai wajar

Beban Dan Pendapatan

Beban yang berhubungan dengan Pengelolaan Investasi

14. Beban yang berhubungan dengan pengelolaan investasi diakui secara akrual dan harian.

Keuntungan (Kerugian) Investasi Reksa Dana

18. Keuntungan (kerugian) investasi yang telah direalisasi dan yang belum direalisasi diakui pada laporan laba rugi periode berjalan.

Pendapatan Dari Pembagian Hak Oleh Perusahaan

22. Pendapatan dari pembagian hak oleh perusahaan diakui pada tanggal ex (ex-date).

Pendapatan Bunga

25. Pendapatan bunga dari efek hutang diakui secara akrual dan dilaporkan sebagai pendapatan yang belum direalisasi.

26. Potongan harga pembelian dari nilai pokok efek hutang diakui sebagai piutang bunga dan diamortisasi sebagai pendapatan bunga sepanjang umur efek hutang tersebut.

27. Obligasi yang dibeli dengan harga terpisah dari bunga berjalan, maka bunga yang dibayar tersebut diakui sebagai piutang bunga.

Penyajian Laporan Keuangan

Laporan Keuangan Reksa Dana

28 Laporan keuangan reksa dana terdiri dari:

a) Laporan aktiva dan kewajiban;
b) Laporan operasi;
c) Laporan perubahan aktiva bersih;
d) Catatan atas laporan keuangan.

Laporan Aktiva dan Kewajiban

29. Tujuan laporan aktiva dan kewajiban adalah untuk menyediakan informasi mengenai aktiva, kewajiban, dan aktiva bersih suatu reksa dana dan informasi mengenai hubungan antar unsur ersebut pada waktu tertentu.

30. Laporan aktiva dan kewajiban disajikan dengan menggunakan metode tidak dikelompokkan (unclassified) sehingga aktiva dan kewajiban tidak dikelompokkan menjadi elemen lancar dan elemen tidak lancar. Pada bagian aktiva, akun portofolio efek disajikan pada urutan pertama, sedangkan akun lainnya berdasarkan urutan likuiditas. Akun kewajiban dilaporkan berdasarkan urutan jatuh tempo.

Laporan Operasi

31. Tujuan laporan operasi adalah untuk menyajikan perubahan aktiva bersih yang berasal dari seluruh aktivitas investasi reksa dana, dengan melaporkan pendapatan investasi berupa dividen, bunga, dan pendapatan lain-lain dikurangi beban-beban, jumlah keuntungan (kerugian) transaksi efek yang telah direalisasi, dan perubahan nilai wajar efek dalam portofolio efek yang belum direalisasi dalam suatu periode. Penyajian tersebut akan membantu pengguna laporan untuk memahami kontribusi setiap aspek kegiatan investasi terhadap operasi reksa dana secara keseluruhan.

32. Laporan operasi disajikan dalam bentuk berjenjang (multiple-step) dengan memisahkan pendapatan dan beban investasi dari keuntugan (kerugian) yang berasal dari kenaikan atau penurunan nilai wajar portofolio efek (baik yang sudah direalisasi maupun yang belum direalisasi).

Laporan Perubahan Aktiva Bersih

33. Tujuan laporan perubahan aktiva bersih adalah untuk menyajikan informasi ringkas tentang perubahan aktiva bersih dari operasi dan perubahan aktiva bersih yang berasal dari transaksi dengan pemegang saham atau pemilik unit penyertaan.

34. Laporan perubahan aktiva bersih disajikan dengan memisahkan antara perubahan aktiva bersih yang berasal dari operasi dan perubahan aktiva bersih yang berasal dari transaksi dengan pemegang saham atau pemilik unit penyertaan.

Pengungkapan

Informasi berikut ini harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan:

a) ikhtisar pembelian dan penjualan efek selama periode pelaporan yang memuat informasi untuk tiap efek sebagai berikut:
i) Efek ekuitas
ii) nama efek
iii) nilai total harga beli/jual
iv) jumlah efek
v) nilai nominal
vi) tanggal jatuh tempo
vii) tingkat bunga
viii) peringkat efek
b) beban komisi Perantara Pedagang Efek selama periode pelaporan

c) jumlah unit penyertaan yang dimiliki oleh pemodal dan yang dimiliki oleh manajer investasi
d) rincian portofolio efek yang memuat informasi untuk tiap efek sebagai berikut :
i) nama efek;
ii) nilai wajar;
iii) jumlah efek;
iv) nilai nominal untuk efek hutang;
v) tanggal jatuh tempo;
vi) tingkat bunga;
vii) persentasi nilai wajar dari efek terhadap total nilai wajar portofolio efek.

Akuntansi Investasi Efek

7. Pada saat perolehan, perusahaan harus mengklasifikasikan efek utang dan efek ekuitas ke dalam salah satu dari tiga kelompok berikut ini :

a) Dimiliki hingga jatuh,
b) Diperdagangkan,
c) Tersedia untuk dijual.

Pada setiap tanggal pelaporan, kelayakan pengelompokan tersebut harus dikaji kembali.

Efek yang Diklasifikasikan dalam Kelompok “Dimiliki hingga Jatuh Tempo”

8. Jika perusahaan mempunyai maksud untuk memiliki efek utang hingga jatuh tempo, maka investasi dalam efek utang tersebut harus diklasifikasikan dalam kelompok “dimiliki hingga jatuh tempo” dan disajikan dalam neraca sebesar biaya perolehan setelah amortisasi premi atau diskonto.

9. Perusahaan mungkin mengubah maksudnya untuk memiliki efek utang tertentu sampai dengan saat jatuh tempo dengan menjual atau mentranfer efek utang tersebut. Penjualan atau transfer efek utang tidak dianggap sebagai perubahan dalam tujuan “dimiliki hingga jatuh tempo” jika perubahan maksud tersebut disebabkan oleh kondisi berikut ini :

a) Terdapat bukti mengenai penurunan signikan risiko kredit perusahaan penerbit efek.

b) Terjadi perubahan peraturan perpajakan yang menghapuskan atau menaikkan tarif pajak final yang berlaku atas bunga dari efek utang (tidak termasuk perubahan peraturan perpajakan yang merevisi tarif pajak atas bunga secara umum).
c) Terjadi penggabungan usaha atau penjualan dalam jumlah besar (seperti penjualan segmen) yang mengakibatkan diperlukannya penjualan atau transfer efek dalam kelompok “dimiliki hingga jatuh tempo” untuk mempertahankan risiko kredit perusahaan dan posisi risiko suku bunga yang ada saat tersebut.
d) Terjadi perubahan dalam persyaratan atau peraturan perundangan yang secara signifikan mengubah definisi investasi yang diizinkan dalam jenis efek tertentu, sehingga perusahaan harus melepaskan efek dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo.

e) Terjadi perubahan peraturan pemerintah mengenai modal minimum industri tertentu yang mengakibatkan perusahaan mengurangi aktivitas usahanya atau skala operasinya dan menjual efek dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo.
f) Terjadi perubahan dalam peraturan pemerintah yang mengakibatkan bertambahnya bobot risiko atas investasi efek utang dalam perhitungan rasio tertentu, misalnya dalam perhitungan solvabilitas perusahaan asuransi atau perhitungan rasio kecukupan modal perbankan.

Selain perubahan yang diuraikan di atas, kejadian lain yang tidak berulang dan bersifat luar biasa yang tidak dapat diantisipasi, dapat menyebabkan perusahaan menjual atau mentransfer efek tertentu dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo, tanpa harus dipertanyakan tujuan awal pemilikan efek dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo mempertimbangkan efek lain dalam kelompok yang sama. Semua penjualan dan tranfer efek dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo harus diungkapkan sesuai dengan persyaratan dalam paragraf 23.

Efek yang Diklasifikasikan dalam Kelompok “Diperdagangkan” dan “Tersedia untuk Dijual”

13. Investasi efek utang yang tidak diklasifikasikan ke dalam “dimiliki hingga jatuh tempo” dan efek ekuitas yang nilai wajarnya telah tersedia, harus diklasifikasikan ke dalam salah satu kelompok berikut ini dan diukur sebesar nilai wajarnya dalam neraca :

a) “Diperdagangkan”. Efek yang dibeli dan dimiliki untuk dijual kembali dalam waktu dekat harus diklasifikasikan dalam kelompok “diperdagangkan”. Efek dalam kelompok “diperdagangkan” biasanya menunjukkan frekuensi pembelian dan penjualan yang sangat sering dilakukan. Efek ini dimiliki dengan tujuan untuk menghasilkan laba dari perbedaan harga jangka pendek.

b) “Tersedia untuk dijual”. Efek yang tidak diklasifikasikan dalam kelompok “diperdagangkan” dan dalam kelompok “dimiliki hingga jatuh tempo”, harus diklasifikasikan dalam kelompok “tersedia untuk dijual”.

Pelaporan Perubahan Nilai Wajar

15. Laba atau rugi yang belum direalisasi atas efek dalam kelompok diperdagangkan harus diakui sebagai penghasilan. Laba atau rugi yang belum direalisasi atas efek dalam kelompok tersedia untuk dijual (termasuk efek yang diklasifikasikan sebagai aktiva lancar) harus dimasukkan sebagai komponen ekuitas yang disajikan secara terpisah, tidak boleh diakui sebagai penghasilan sampai saat laba atau rugi tersebut dapat direalisasi.

Perubahan Kelompok Investasi

16. Pemindahan efek antarkelompok dicatat sebesar nilai wajarnya. Pada tanggal perubahan kelompok, laba atau rugi yang belum direalisasi harus dicatat sebagai berikut :
a) Untuk efek yang dipindahkan dari kelompok diperdagangkan, laba atau rugi yang belum direalisasi, pada tanggal transfer telah tercatat sebagai penghasilan dan oleh karena itu tidak boleh dihapuskan:
b) Untuk efek yang dipindahkan ke kelompok diperdagangkan, laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal pemindahan diakui sebagai penghasilan pada saat tersebut,

c) Untuk efek utang yang dipindahkan ke kelompok tersedia untuk dijual dari kelompok dimiliki hingga jatuh tempo, laba atau rugi yang belum direalisasi diakui dalam kelompok ekuitas secara terpisah pada tanggal pemindahan kelompok,
d) Untuk efek utang yang ditransfer ke kelompok tersedia untuk dijual dari kelompok dimiliki hingga jatuh tempo, laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal transfer harus tetap dilaporkan dalam komponen ekuitas secara terpisah, namun harus diamortisasi selama masa manfaat efek dengan cara yang konsisten dengan amortisasi premi dan diskonto. Amortisasi laba atau rugi yang belum direalisasi tersebut akan sepadan dengan pengaruh amortisasi premi atau diskonto terhadap pendapatan bunga dari efek dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo.

Penurunan Nilai Efek

18. Untuk efek individual dalam kelompok tersedia untuk dijual atau dimiliki hingga jatuh tempo, perusahaan harus menentukan apakah penurunan nilai wajar di bawah biaya perolehan (termasuk amortisasi premi dan diskonto) merupakan penurunan yang bersifat permanen atau tidak. Jika ada kemungkinan investor tidak dapat memperoleh kembali seluruh jumlah biaya perolehan yang seharusnya diterima sehubungan dengan persyaratan perjanjian efek utang, maka penurunan yang bersifat permanen dianggap telah terjadi. Jika penurunan nilai wajar dinilai sebagai penurunan permanen, biaya perolehan efek individual harus diturunkan hingga sebesar nilai wajarnya, dan jumlah penurunan nilai tersebut harus diakui dalam laporan rugi laba sebagai rugi yang telah direalisasi. Biaya perolehan yang baru tidak boleh diubah kembali. Kenaikan selanjutnya dalam nilai wajar efek dalam kelompok tersedia untuk dijual harus dimasukkan ke dalam komponen ekuitas secara terpisah, sebagaimana dinyatakan dalam paragraf 14. Penurunan selanjutnya dari nilai wajar, jika bukan merupakan penurunan nilai sementara, juga harus dimasukkan ke dalam komponen ekuitas secara terpisah.

Penyajian

19. Perusahaan dengan neraca yang aktiva dikelompokkan menjadi aktiva lancar, aktiva tetap dan aktiva lain-lain kewajibannya dikelompokkan menjadi kewajiban jangka pendek dan jangka panjang (classified balance sheet) harus melaporkan semua efek yang diperdagangkan sebagai aktiva lancar. Efek dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo dan efek dalam kelompok tersedia untuk dijual disajikan sebagai aktiva lancar atau aktiva tidak lancar berdasarkan keputusan manajemen. Khusus untuk efek utang dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo dan kelompok tersedia untuk dijualyang jatuh tempo pada tahun berikutnya harus dikelompokkan sebagai aktiva lancar.

20. Dalam laporan arus kas, arus kas yang digunakan untuk atau berasal dari pembelian, penjualan, dan jatuh tempo efek dalam kelompok tersedia untuk dijual dan dimiliki hingga jatuh tempo, harus diklasifikasikan sebagai arus kas aktivitas investasi, dan dilaporkan sebesar nilai bruto untuk setiap kelompok efek di dalam laporan arus kas. Arus kas untuk atau dari pembelian, penjualan, dan jatuh tempo efek dalam kelompok diperdagangkan harus diklasifikasikan sebagai arus kas aktivitas operasi.

Pengungkapan

21. Untuk efek dalam kelompok tersedia untuk dijual dan kelompok dimiliki hingga jatuh tempo, informasi berikut ini harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan untuk setiap kelompok utama efek :

a) Nilai wajar agregat,
b) Laba yang belum direalisasi dari pemilikan efek,
c) Rugi belum direalisasi dari pemilikan efek,
d) Biaya perolehan, termasuk jumlah premi dan diskonto yang belum diamortisasi.

Lembaga keuangan (bank, koperasi kredit, lembaga pembiayaan dan asuransi) perusahaan harus mengungkapkan setiap jenis efek utama yang dimilikinya sebagai berikut :

a) Efek ekuitas,
b) Efek utang yang dikeluarkan oleh pemerintah,
c) Efek utang perusahaan,
d) Efek utang yang dijamin hipotik,
e) efek utang lainnya.

Pengakuan dan Pengukuran

11. Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu perusahaan untuk melakukan kuasi-reorganisasi adalah:

a) Perusahaan mengalami defisit dalam jumlah yang material;
b) Perusahaan harus memliki status kelancaran usaha dan memiliki prospek yang baik pada saat kuasi reorganisasi dilakukan;
c) Perusahaan tidak sedang menghadapi permohonan kepailitan;
d) Tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku; dan
e) Saldo ekuitas sesudah kuasi-reorganisasi harus positif.

14. Dalam melakukan kuasi-reorganisasi, aktiva dan kewajiban harus dinilai kembali dengan nilai wajar.

15. Nilai wajar aktiva dan kewajiban ditentukan sesuai dengan nilai pasar. Bila nilai pasar tidak tersedia, estimasi nilai wajar didasarkan pada informasi terbaik yang tersedia. Estimasi nilai wajar dilakukan dengan mempertimbangkan harga aktiva sejenis dan teknik penilaian yang paling sesuai dengan karakteristik aktiva dan kewajiban yang bersangkutan.

Contoh tehnik penilaian tersebut antara lain meliputi;

a) Nilai sekarang (present value) atau arus kas diskontoan (discounted cash flow) dengan mempertimbangkan tingkat risiko yang dihadapi;

b) Model penentuan harga opsi (option-pricing models); dan
c) Analisis fundamental (fundamental analysis).

16. Selisih antara nilai wajar aktiva dan kewajiban dengan nilai bukunya diakui atau dicatat pada akun saldo laba.

17. Saldo negatif dari saldo laba (retained earnings) setelah proses penilaian aktiva dan kewajiban dihapus ke tambahan modal setoran. Apabila tambahan setoran modal tidak mencukupi, saldo negatif tersebut dihapuskan ke modal saham.

Pengungkapan

18. Perusahaan harus menyusun neraca per tanggal kuasi-reorganisasi. Neraca ini harus dibandingkan dengan neraca sebelum kuasi-reorganisasi.

19. Untuk laporan keuangan tahunan, laporan keuangan harus menyajikan neraca akhir periode sebelum kuasi-reorganisasi, neraca per tanggal kuasi-reorganisasi, dan neraca akhir periode terakhir.

20. Perusahaan yang melakukan kuasi-reorganisasi harus mengungkapkan hal-hal berikut:

a) Alasan perusahaan melakukan kuasi-reorganisasi;
b) Status going concern perusahaan dan rencana manajemen dan pemegang saham setelah kuasi-reorganisasi yang menggambarkan prospek usaha di masa mendatang;
c) Neraca harus menyajikan jumlah saldo laba negatif (defisit) yang dieliminasi dan jumlah tersebut disajikan selama tiga tahun berturutan sejak kuasi-reorganisasi;
d) Catatan atas laporan keuangan harus mengungkapkan penentuan nilai wajar yang digunakan untuk menilai aktiva dan kewajiban pada saat dilakukan kuasi-reorganisasi;
e) Untuk jangka waktu 10 tahun ke depan sejak kuasi-reorganisasi, akun saldo laba dalam neraca harus diberi keterangan tentang tanggal terjadinya kuasi-reorganisasi.

Mata Uang Pencatatan dan Pelaporan

04. Mata uang pelaporan yang digunakan oleh perusahaan di Indonesia adalah mata uang Rupiah. Perusahaan dapat menggunakan mata uang selain rupiah sebagai mata uang pelaporan hanya apabila mata uang tersebut memenuhi kriteria mata uang fungsional.

05. Mata uang pencatatan harus sama dengan mata uang pelaporan.

08. Suatu mata uang merupakan mata uang fungsional apabila memenuhi indikator berikut ini secara menyeluruh (kumulatif):

a). Indikator arus kas: arus kas yang berhubungan dengan kegiatan utama perusahaan didominasi oleh mata uang tertentu.
b). Indikator harga jual: harga jual produk perusahaan dalam periode jangka pendek sangat dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar mata uang tertentu atau produk perusahaan secara dominan dipasarkan untuk ekspor, dan
c). Indikator biaya: biaya-biaya perusahaan secara dominan sangat dipengaruhi oleh pergerakan mata uang tertentu.

12. Perlakuan akuntansi untuk transaksi dan saldo dalam mata uang non fungsional adalah sebagaimana diatur dalam PSAK 10 tentang Transaksi dalam Mata Uang Asing.

Penentuan Saldo Awal

14. Penentuan saldo awal untuk tujuan pencatatan akuntansi dilakukan dengan pengukuran kembali akun-akun laporan keuangan seolah-olah mata uang fungsional tersebut telah digunakan sejak tanggal terjadinya transaksi. Prosedur pengukuran kembali adalah sebagai berikut:

i) Aktiva dan kewajiban moneter diukur kembali dengan menggunakan kurs tanggal neraca;
ii) Aktiva dan kewajiban non-moneter serta modal saham diukur kembali dengan menggunakan kurs historis atau kurs tanggal terjadinya transaksi perolehan aktiva tetap, terjadinya kewajiban atau penyetoran modal saham;

iii) Selisih antara aktiva, kewajiban dan modal saham dalam mata uang pelaporan baru, yang merupakan hasil perhitungan prosedur (i) dan (ii) diatas, diperhitungkan pada saldo laba atau akumulasi kerugian pada periode tersebut;
iv) Pendapatan dan beban diukur kembali dengan menggunakan kurs rata-rata tertimbang selama periode yang diperbandingkan, kecuali untuk beban penyusutan aktiva tetap atau amortisasi aktiva non-moneter yang diukur kembali dengan menggunakan kurs historis aktiva yang bersangkutan;
v) Dividen diukur dengan menggunakan kurs tanggal pencatatan dividen tersebut;

vi) Prosedur (iv) dan (v) di atas akan menghasilkan selisih pengukuran kembali yang diperhitungkan pada saldo laba atau akumulasi kerugian pada periode tersebut;
vii) Selisih pengukuran kembali merupakan hasil dari perhitungan berikut: saldo laba (akumulasi kerugian) akhir tahun (hasil dari prosedur (iii)) ditambah dengan dividen (hasil dari prosedur (v)) dan dikurangi dengan hasil perhitungan laba (rugi) bersih selama periode yang diperbandingkan (hasil dari prosedur (iv)).

15. Pengukuran kembali sebagaimana diatur dalam paragraf 14, dilakukan surut hingga tahun dimana mata uang fungsional tersebut mulai berlaku.

Penyajian Komparatif

16. Laporan keuangan periode yang diperbandingkan yang tidak menggunakan mata uang fungsional, harus diukur dan disajikan kembali sesuai dengan cara yang dijelaskan pada paragraf 14 dan 15.

Perubahan Mata Uang Pencatatan dan Pelaporan

17. Perusahaan diharuskan untuk mengubah mata uang pencatatan dan pelaporan ke rupiah, apabila mata uang fungsional berubah dari bukan rupiah ke rupiah. Perubahan mata uang pencatatan dan pelaporan harus dilakukan pada awal tahun buku, tidak di tengah tahun buku.

Konsolidasi

19. Laporan keuangan konsolidasi disajikan dalam mata uang fungsional setelah mempertimbangkan indikator pada paragraf 08 terhadap induk perusahaan dan tiap anak perusahaan. Penjabaran laporan keuangan anak perusahaan ke mata uang fungsional pada laporan keuangan konsolidasi dilakukan dengan cara sebagai berikut:

i). Aktiva dan kewajiban dijabarkan dengan menggunakan kurs tanggal neraca;
ii). Ekuitas dijabarkan dengan menggunakan kurs historis;
iii). Pendapatan dan beban dijabarkan dengan menggunakan kurs rata-rata tertimbang;
iv). Dividen diukur dengan menggunakan kurs tanggal pencatatan dividen tersebut;
v). Prosedur (I) sampai (iv) di atas akan menghasilkan selisih penjabaran kembali yang disajikan dalam akun ekuitas sebagai “Selisih Penjabaran”.

Mata uang pencatatan induk perusahaan harus sama dengan mata uang pelaporan konsolidasi.

Pengungkapan

21. Perusahaan mengungkapkan hal-hal berikut ini:

a. Alasan penentuan mata uang pelaporan berdasarkan indikator pada paragraf 08;

b. Perubahan mata uang pelaporan dan alasan perubahannya:

i). Alasan perubahan berdasarkan indikator pada paragraf 08;
ii). Kurs (historis, sekarang atau rata-rata tertimbang) yang digunakan dalam pengukuran kembali atau penjabaran;
iii). Ikhtisar neraca dan laporan laba-rugi yang disajikan sebagai perbandingan dalam mata uang pelaporan sebelumnya.