PSAK 31 Akuntansi Perbankan (Accounting for Bank)

Posted: 7 April 2010 in PSAK
Tags: , , , , , ,

BAB II

LAPORAN KEUANGAN BANK

A. Pengukuran dalam Nilai Uang

01. Laporan keuangan bank harus disajikan dalam mata uang Rupiah. Dalam hal bank memiliki aktiva, kewajiban dan komitmen serta kontinjensi dalam valuta asing, harus dijabarkan kedalam mata uang Rupiah dengan menggunakan kurs tengah yang berlaku pada tanggal laporan. Untuk modal yang disetor dalam valuta asing dijabarkan dengan menggunakan kurs konversi Bank Indonesia pada saat modal tersebut disetor (historical rate).

02. Kurs tengah yaitu kurs jual ditambah kurs beli Bank Indonesia dibagi dua. Dalam hal kurs mata uang asing tidak tersedia di Bank Indonesia, digunakan kurs jual ditambah kurs beli bank yang bersangkutan dibagi dua.

03. Bank wajib mengungkapkan posisi neto aktiva dan kewajiban dalam valuta asing yang masih terbuka (posisi devisa neto) .

B. Laporan Keuangan Bank

04. Untuk memenuhi kepentingan berbagai pihak, laporan keuangan bank harus disusun berdasarkan SAK dan Pernyataan ini. Laporan keuangan bank terdiri atas :

a. Neraca
b. Laporan Komitmen dan Kontinjensi

c. Laporan Laba Rugi
d. Laporan Arus Kas
e. Catatan atas Laporan Keuangan

05. Penerapan prinsip akuntansi terhadap suatu fakta atau pos tertentu yang menyimpang dari SAK dan Pernyataan ini dapat dilaksanakan jika hal tersebut tidak menimbulkan pengaruh yang material terhadap kelayakan laporan keuangan bank. Sebaliknya apabila terdapat fakta atau pos tertentu yang belum diatur dalam SAK dan Pernyataan ini tetapi jumlahnya material, perlakuannya didasarkan pada praktek akuntansi yang lazim dan disajikan dalam suatu pos tersendiri.

06. Untuk dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai sifat dan perkembangan bank dari waktu kewaktu, maka laporan keuangan disajikan secara komparatif untuk 2 (dua) tahun terakhir.

C. Neraca

07. Dalam penyajiannya, aktiva dan kewajiban dalam neraca bank tidak dikelompokkan menurut lancar dan tidak lancar (unclassified), namun sedapat mungkin tetap disusun menurut tingkat likuiditas dan jatuh tempo.

08. Komponen-komponen neraca bank disusun dengan mengacu pada SAK untuk pos-pos yang bersifat umum dan mengacu pada Pernyataan ini untuk pos-pos yang bersifat khusus perbankan

09. Setiap Aktiva Produktif disajikan di neraca sebesar jumlah bruto dari tagihan atau penempatan bank dikurangi dengan penyisihan penghapusan yang dibentuk untuk menutup kemungkinan kerugian yang timbul dari masing-masing aktiva produktif. Penyisihan penghapusan yang dibentuk disajikan sebagai pos pengurang (offsetting account) dari masing-masing jenis aktiva produktif yang bersangkutan.

D. Laporan Komitment dan Kontinjensi

10. Laporan Komitmen dan Kontinjensi Wajib disusun secara sistematis, sehingga dapat rnemberikan gambaran mengenai posisi komitmen den kontinjensi, baik yang bersifat tagihan maupun kewajiban, pada tanggal laporan.

11. Komitmen adalah suatu ikatan atau kontrak berupa janji yang tidak dapat dibatalkan (irrevocable) secara sepihak, dan harus dilaksanakan apabila persyaratan yang disepakati bersama dipenuhi, seperti kornitmen kredit, komitmen penjualan atau pembelian aktiva bank dengan syarat “repurchase agreement” (Repo), serta komitmen penyediaan fasilitas perbankan lainnya.

12. Kontinjensi adalah tagihan atau kewajiban bank yang kemungkinan timbulnya tergantung pada terjadi atau tidak terjadinya satu atau lebih peristiwa dimasa yang akan datang.

13. Sistimatika penyajian laporan komitmen dan kontinjensi disusun berdasarkan urutan tingkat kemungkinan pengaruhnya terhadap perubahan posisi keuangan dan hasil usaha bank.

14. Komitmen dan kontinjensi, baik yang bersifat sebagai tagihan maupun kewajiban, masing-masing disaiikan secara tersendiri tanpa pos lawan.

E. Laporan Rugi Laba

15. Laporan laba-rugi bank wajib disusun sedemikian rupa agar dapat memberikan gambaran mengenai hasil usaha bank dalam suatu periode tertentu.

16. Laporan laba-rugi; bank disusun dalam bentuk berjenjang (multiple step) yang menggambarkan pendapatan atau beban yang berasal dari kegiatan utama bank dan kegiatan lainnya.

17. Cara penyajian laporan laba-rugi bank adalah sebagai berikut:

a. wajib memuat secara rinci unsur pendapatan dan beban,
b. unsur pendapatan dan beban harus dibedakan antara pendapatan dan beban yang berasal dari kegiatan operasional dan non-operasional.

18. Komponen-komponen laporan laba rugi bank disusun dengan mengacu pada SAK untuk pos-pos yang bersifat umum dan Pernyataan ini untuk pos-pos yang bersifat khusus perbankan.

F. Laporan Kas

19. Laporan Arus Kas, sesuai dengan PSAK No. 2 tentang Laporan Arus Kas, harus disusun berdasarkan konsep kas (cash concept) selama periode laporan. Laporan ini harus menunjukkan semua aspek genting dari kegiatan bank, tanpa memandang apakah transaksi tersebut berpengaruh langsung pada kas.

G. Catatan atas Laporan Keuangan

20. Di samping hal-hal yang wajib diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan sebagaimana dijelaskan dalam SAK dan Pernyataan ini, bank juga wajib mengungkapkan dalam catatan tersendiri mengenai posisi devisa neto menurut jenis mata uang serta aktivitas-aktivitas lain seperti kegiatan wali amanat, penitipan harta (custodianship), dan penyaluran kredit kelolaan.

H. Laporan Keuangan Gabungan dan Konsolidasi

21. Bank yang mempunyai kantor cabang atau kantor operasional lainnya wajib menyusun laporan keuangan gabungan pada setiap tanggal laporan, yang meliputi seluruh kantornya baik yahg ada didalam maupun di luar negeri. Dalam membuat laporan gabungan, saldo rekening antar kantor (termasuk pendapatan dan beban) wajib dieliminasi sedemikian rupa sehingga mencerminkan posisi keuangan dan hasil usaha bank secara wajar.

22. Bank yang mempunyai satu atau lebih anak perusahaan yang memenuhi persyaratan tertentu, wajib membuat laporan konsolidasi yang meliputi posisi keuangan dan hasil usaha bank dan seluruh anak perusahaan pada akhir periode laporan:

a. Laporan konsolidasi tersebut dibuat bagi bank yang memiliki saham atau hak pemilikan atas lembaga keuangan lain yang jumlahnya lebih dari 50%. Sedangkan bagi bank yang memiliki saham atau hak pemilikan atas lembaga keuangan lain yang jumlahnya 50% atau kurang wajib diungkapkan(disclosure) dalam laporan keuangan.
b. Dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasi saldo rekening-rekening yang menampung transaksi-transaksi antar perusahaan induk dan atau anak perusahaan (intercompany accounts) wajib dieliminasi sedemikian rupa sehingga dapat mencerminkan posisi keuangan serta hasil usaha bank secara wajar.

c. Pengecualian dari kewajiban penyusunan laporan keuangan konsolidasi di atas dapat dilakukan apabila memenuhi kriteria sebagaimana diatur dalam SAK.

23. Sebelum membuat laporan keuangan gabungan atau konsolidasi, laporan keuangan kantor cabang atau anak perusahaan di luar negeri terlebih dahulu dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah sebagai berikut:

a. Laporan keuangan dalam mata uang asing terlebih dahulu harus disajikan sesuai dengan SAK.
b. Aktiva dan kewajiban serta komitmen dan kontinjensi pada tanggal neraca, dari kantor cabang atau anak perusahaan di luar negeri harus dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah dengan menggunakan kurs tengah pada tanggal laporan. sedangkan pos pos ekuitas dbarkan dengan menggunakan kurs historis.
c. Laporan laba-rugi untuk setiap bulan dan kantor cabang dan anak perusahaan di luar negeri dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah dengan menggunakan kurs tengah rata-rata pada bulan yang bersangkutan. Laporan laba-rugi untuk suatu tahun buku dari kantor cabang dan anak perusahaan di luar negeri merupakan penjumlahan dari laporan laba-rugi setiap bulan yang telah dijabarkan dalam mata uang rupiah.
d. Laporan arus kas dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah dengan menggunakan kurs tengah tanggal laporan, kecuali pos-pos laba-rugi yang dijabarkan dengan kurs tengah rata rata dan pos-pos ekuitas yang dijabarkan dengan menggunakan kurs historis.

e. Selisih yang timbul dari proses penjabaran laporan keuangan tersebut disajikan di kelompok ekuitas sebagai “Penyesuaian akibat penjabaran laporan keuangan” (translation adjustments).

I. Laporan Keuangan Interim

24. Laporan keuangan.interim yang meliputi periode bulanan atau triwulanan merupakan bagian integral dari laporan keuangan tahunan. Oleh karena itu, laporan keuangan interim tersebut wajib disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang sama dengan laporan keuangan tahunan.

BAB I I I

AKUNTANSI PENDAPATAN DAN BEBAN

A. Akuntansi Pendapatan dan Beban Bunga

01. Dasar yang digunakan dalam pengakuan pendapatan dan beban bank merupakan hal yang fundarnental dalam hubungannya dengan pengukuan tingkat rentabilitas. Kegiatan utama bank adalah memupuk dana yang pada umumnya adalah berbunga (interest bearing) dan menanamkannya dalam aktiva produktif (earning assets). Seperti pada industri lainnya, selalu terdapat kemungkinan perbedaan waktu antara perolehan pendapatan dan terjadinya beban atas penggunaan sumber daya untuk menghasilkan pendapatan tersebut. Oleh karena itu, pengkaitan (matching) antara pendapatan dan beban bank tidak mudah dilakukan, sehingga dalam pengakuan pendapatan perlu diperhatikan sifat dari keunikan usaha bank tersebut.

02. Pendapatan dan beban bunga diakui secara akrual (accrual / basis), kecuali pendapatan bunga dari kredit dan aktiva produktif lainnya yang non performing. Pendapatan dari aktiva yang non performing hanya boleh diakui apa bila pendapatan tersebut benar-benar telah diterima. Pendapatan dari aktiva produktif non performing yang belum diterima tidak dapat diakui sebagai pendapatan dalam periode laporan dan harus dilaporkan dalam Laporan Komitmen dan Kontinjensi.

03. Pendapatan bunga terdiri atas pendapatan bunga dan pendapatan lain yang berkaitan langsung dengan pemberian kredit seperti provisi dan komisi.

04. Beban bunga terdiri atas beban bunga dan beban lain yang dikeluarkan secara langsung dalam rangka penghimpunan dana tersebut seperti hadiah, premi atau diskonto dari kontrak berjangka dalam rangka pendanaan (funding).

B. Pengakuan Pendapatan dan Beban atas Komisi dan Provisi

05. Komisi dan provisi yang berkaitan langsung dengan kegiatan perkreditan diperlakukan sebagai pendapatan atau beban yang ditangguhkan aan diamortisasi secara sistimatis selama jangka waktu komitmen kredit. Apabila komitmen tersebut diselesaikan sebelum jangka waktunya maka sisa komisi dan provisi diakui sebagai pendapatan atau beban pada saat penyelesaian komitmen tersebut.

06 Komisi dan provisi yang tidak berkaitan langsung dengan kegiatan perkreditan namun terkait dengan jangka waktu diperlakukan sebagai pendapatan atau beban yang ditangguhkan dan diamortisasi secara sistimatis selama jangka waktu tertentu.

07. Komisi dan provisi yang tidak berkaitan dengan kegiatan perkreditan dan jangka waktu, diakui sebagai pendapatan atau beban pada saat terjadinya transaksi.

C. Pengakuan Pendapatan dan Beban atas Transaksi Valuta Asing

08. Laba atau rugi yang timbul dari transaksi valuta asing harus diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba rugi periode berjalan.

09. Selisih penjabaran aktiva dan kewajiban dalam mata uang asing ke dalam mata uang Rupiah harus diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba-rugi periode berjalan.

10. Untuk transaksi berjangka valuta asing dalam rangka pendanaan (funding):

a. Selisih antara kurs berjangka yang diperjanjikan (contracted forward rate) dengan kurs tunai pada tanggal transaksi (spot rate) diakui sebagai premi atau diskonto dan dismortisasi secara proporsional selama jangka waktu kontrak. Premi atau diskonto tersebut disajikan sebagai penambah atau pengurang beban bunga.
b. Selisih antara kurs tunai pada tanggal laporan dengan kurs tunai pada tanggal transaksi, untuk tagihan atau kewajiban berjangka (forward receivable or payable) dalam valuta asing diakui sebagai pendapatan atau beban periode berjalan .

11. Untuk transaksi berjangka valuta asing dalam rangka trading, selisih antara kurs yang diperjanjikan (contracted forward rate) dengan kurs tunai pada tanggal jatuh waktu (spot rate) diakui sebagai laba atau rugi transaksi valuta asing pada akhir masa kontrak.

12.a. Untuk transaksi swap suku bunga (interest rate swap) dalam rangka pendanaan, selisih antara suku bunga yang dipertukarkan (original interest rate) dengan suku bunga yang diperjanjikan (contracted interest rate) disajikan sebagai. penambah atau pengurang beban dana dan diamortisasi secara proporsional selama jangka waktu kontrak.

12.b. Untuk transaksi swap suku bunga (interest rate swap) dalam rangka trading, selisih antara suku bunga yang dipertukarkan dengan suku bunga yang diperjanjikan diakui sebagai laba atau rugi pada akhir masa kontrak.

13. Dalam hal bank bertindak sebagai penerbit opsi, selisih rugi antara kurs opsi yang diperjanjikan dengan kurs tunai pasar pada tanggal laporan, wajib diperhitungkan sebagai beban dalam periode berjalan. Selisih laba antara kurs opsi yang diperjanjikan dengan kurs tunai pasar pada tanggal laporan tidak boleh diperhitungkan sebagai pendapatan dalam periode berjalan.

BAB IV

AKUNTANSI AKTlVA

A. Kas

01. Kas adalah mata uang kertas dan logam baik Rupiah maupun valuta asing yang masih berlaku sebagai alat pembayaran yang sah. Termasuk pula dalam kas adalah mata uang Rupiah yang ditarik dari peredaran dan masih dalam masa tenggang untuk penukarannya ke Bank Indonesia. Dalam pengertian kas ini tidak termasuk commemorative coin, emas batangan, dan mata uang emas serta valuta asing yang sudah tidak berlaku.

02. Mata uang kertas dan logam asing yang ditarik dari peredaran disajikan dalam rekening aktiva lain-lain sebesar nilai nominal dikurangi dengan taksiran biaya repatriasi dan dijabarkan kedalam matai uang Rupiah dengan menggunakan kurs tengah.

B. Giro pada Bank Indonesia

03. Giro pada Bank Indonesia adalah saldo rekening giro bank baik dalam Rupiah maupun dalam valuta asing di Bank Indonesia .

C. Glro pada Bank Lain

04. Giro pada bank lain adalah saldo rekening giro bank baik dalam rupiah maupun dalam valuta asing di bank lain.

D. Penempatan pada Bank Lain

05. Penempatan pada bank lain adalah penanaman dana bank pada bank lain, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, dalam bentuk interbank call money, tabungan, deposito berjangka, dan lain-lain yang sejenis, yang dimaksudkan untuk memperoleh penghasilan .

06. Penempatan pada bank lain disajikan di neraca sebesar nilai bruto tagihan bank. Penyisihan yang dibentuk untuk menutup kemungkinan terjadinya kerugian dari penempatan tersebut disajikan sebagai pos pengurang (offsetting account) dari penempatan tersebut.

07. Hal-hal berikut wajib diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan:

a. jenis dan jumlah penempatan.
b. jenis valuta
c. jangka waktu
d. tingkat suku bunga rata-rata

E. Surat Berharga

08. Surat Berharga adalah surat pengakuan hutang, wesel, saham, obligasi, sekuritas kredit, atau setiap derivatif dari surat berharga atau kepentingan lain atau suatu kewajiban dari penerbit, dalam bentuk yang lazim diperdagangkan dalam pasar uang dan pasar modal.

09.a. Surat-surat berharga pasar uang yang dibeli dengan cara diskonto disajikan di neraca sebesar nilai nominal dikurangi dengan bunga yang belum diamortisasi.

09.b. Surat-surat berharga pasar modal dinyatakan dalam neraca sebesar harga terendah antara harga perolehan dan harga pasarnya (Comwil). Selisih antara harga perolehan dengan harga pasar diakui sebagai kerugian dan dibebankan pada perkiraan penilainya.

09.c. Penyisihan yang dibentuk untuk menutup kemungkinan terjadinya kerugian dari penanaman tersebut disajikan sebagai pos pengurang (offsetting account) dari penanaman dimaksud.

10. Hal-hal berikut wajib diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan:

a. jenis dan jumlah nilai nominal surat-surat berharga
b. harga pasar (bila ada)

F. Kredit yang Diberikan

11. Kredit yang diberikan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan. Termasuk dalam pengertian kredit yang diberikan adalah kredit dalam rangka pembiayaan bersama dan kredit dalam proses penyelamatan.

12.a. Kredit yang diberikan dalam rangka pembiayaan bersama dicatat sebesar tagihan bank yang bersangkutan.

12.b. Pengalihan kredit menjadi penyertaan dicatat sebesar nilai wajar dari saham atau harta yang diterima.

12.c. Pokok dan bunga kredit yang dihapusbukukan dibebankan ke Penyisihan Penghapusan Kredit setelah dikurangi dengan nilai wajar dari aktiva yang diterima atau agunan yang dikuasai.

13. Kredit disajikan di neraca sebesar jumlah bruto tagihan bank yang belum dilunasi oleh nasabah. Jumlah penyisihan penghapusan yang dibentuk untuk menutup kemungkinan kerugian yang timbul dari tidak dapat diterima kembali sebagian atau seluruh kredit disajikan sebagai pos pengurang (offsetting account) dari kredit tersebut.

Dalam hal restrukturisasi kredit, jumlah bruto tersebut teramsuk dengan bunga dan beban lain yang dialihkan menjadi pokok kredit.

14. Hal-hal sebagai berikut wajib diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan:

a. Jenis kredit, sektor ekonomi dan jumlah kredit masing masing.
b. Jumlah kredit yang diberikan kepada pihak-pihak tertentu seperti anak perusahaan, pemegang saham dan pengurus beserta grup perusahaannya.
c. Kedudukan bank dalam pembiayaan bersama dan besarnya pangsa.

d. Jumlah kredit dalam proses penyelamatan.
e. Klasifikasi kredit menurut jangka waktu dan tingkat suku bunga kredit yang dihitung secara rata-rata (average).
f. Ikhtisar perubahan penyisihan penghapusan kredit yang diberikan dalam tahun yang bersangkutan yang menunjukkan saldo awal, penyisihan tahun berjalan, penghapusan (write off) selama tahun berjalan, pelunasan kredit yang telah dihapus bukukan dan saldo akhir tahun.

G. Penyertaan

15. Penyertaan adalah penanaman dana bank dalam bentuk saham perusahaan lain untuk tujuan investasi jangka panjang, baik dalam rangka pendirian, ikut serta dalam lembaga keuangan lain, penyelamatan kredit atau lainnya.

16. Penyertaan bank pada lembaga keuangan lain dengan pangsa kurang dari 20% dicatat dengan cost method.

17. Penyertaan bank pada Lembaga Keuangan Lain dengan pangsa 20% atau lebih serta penyertaan yang berasal dari pengalihan kredit dicatat dengan equity method.

18. Hal-hal tersebut di bawah ini wajib diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan:

a. kebijakan akuntansi untuk Penyertaan tersebut;
b. nama anak perusahaan, bidang usaha, jumlah dan persentase penyertaan;
c. serta jumlah keuntungan atau kerugian periode berjalan dan akumulasinya bagi penyertaan yang dicatat dengan cost method.

H. Aktiva lain-lain

19. Aktiva lain-lain merupakan pos yang dimaksudkan untuk menampung aktiva-aktiva yang tidak dapat digolongkan ke dalam pos-pos tersebut di atas dan tidak cukup material disajikan dalam pos tersendiri. Sebagai contoh, emas batangan, commemorative coin, warkat yang masih harus ditagih, biaya yang ditangguhkan, pajak yang dibayar dimuka dan agunan yang diambil alih.

20.a. Emas batangan disajikan sebesar harga pasar dikurangi dengan taksiran biaya penjualan (net realizable va/ue), sedangkan untuk commemorative coin disajikan di neraca sebesar harga perolehan.

20.b. Agunan yang diambil alih disajikan sebesar nilai terendah antara harga pasar dan nilai yang disepakati bersama.

BAB V

AKUNTANSI KEWAJIBAN DAN EKUITAS

A. Glro

01. Giro adalah simpanan pihak lain pada bank yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran dan penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, kartu ATM, sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindah bukuan antara lain dengan bilyet giro.

02. Giro disajikan di neraca sebesar kewajiban bank kepada pemegang giro.

03. Hal-hal tersebut dibawah ini wajib diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan:

a. Jumlah giro yarg diblokir.
b. Pemberian fasilitas istimewa kepada pemilik rekening giro.

B. Kewajiban Segera Lainnya

04. Kewajiban Segera Lainnya adalah kewajiban bank kepada pihak lain yang sifatnya wajib segera dibayarkan sesuai perintah pemberi amanat atau perjanjian yang ditetapkan sebelumnya. Contoh kewajiban segera lainnya antara lain seperti transfer, penerimaan pajak melalui bank yang masih harus disetor dan bunga yang masih harus dibayar.

05. Kewajiban Segera Lainnya disajikan di neraca sebesar jumlah kewajiban bank kepada pihak lain pada tanggal laporan

C. Tabungan

06. Tabungan adalah simpanan pihak lain pada bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek atau alat yang dapat dipersamakan dengan itu.

07. Tabungan disajikan di neraca sesuai jumlah kewajiban bank kepada pemilik tabungan.

D. Deposito Berjangka

08. Depasito Berjangka adalah simpanan pihak lain pada bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu menurut perjanjian antara penyimpan dengan bank yang bersangkutan .

09. Deposito Berjangka disajikan di neraca sebesar jumlah nominal yang tercantum dalam perjanjian antara bank dengan pemegang deposito berjangka.

10. Hal-hal tersebut di bawah ini wajib diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan:

a. Jumlah deposito yang diblokir atau dijadikan jaminan kredit.
b. Komposisi besarnya pemilikan deposito menurut jenis mata uang rupiah dan valuta asing.
c. Klasifikasi menurut jangka waktu (tenor), misalnya 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan dan di atas 12 bulan.
d. Tingkat suku bunga yang dihitung secara rata-rata.

E. Sertifikat Deposito

11. Sertifikat Deposito adalah deposito berjangka yang bukti simpanannya dapat diperdagangkan.

12. Sertifikat Deposito disajikan sebesar nilai nominal. Diskonto (selisih antara jumlah tunai yang diterima dengan nilai nominai) dicatat sebagai bunga dibayar di muka dan diamortisasi selama jangka waktu sertifikat deposito. Saldo bunga dibayar di muka tersebut disajikan sebagai pos pengurang (offsetting account) jumlah nominal Sertifikat Deposito.

13. Hal-hal tersebut di bawah ini wajib diungkapkan dalam catatan atas lanoran keuanqan:

a. Klasifikasi menurut jangka waktu (tenor) dan tingkat suku bunga yang dihitung secara rata-rata.
b. Komposisi besarnya sertifikat deposito menurut jenis mata uang.

F. Pinjaman yang Diterima

14. Pinjaman yang diterima adalah fasilitas pinjaman yanq diterima dari bank atau pihak lain termasuk dari Bank Indonesia baik dalam Rupiah maupun dalam mata uang asing, dan harus dibayar bila telah jatuh waktu. Dalam pengertian pinjaman yang diterima tidak termasuk pinjaman subordinasi.

15. Pinjaman yang diterima disajikan sebesar saldo pinjaman yang diterima bank pada tanggal laporan.

16. Hal-hal tersebut di bawah ini wajib diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan:

a. Jenis pinjaman yang diterima :

- Kredit likuiditas Bank Indonesia
- Pinjaman yang diterima dari pasar uang
- Lainnya

b. Rata-rata tingkat suku bunga
c. Jangka waktu dan jatuh tempo
d. Jenis valuta (Rupiah & Valuta asing)

e. Perikatan yang menyertainya
f. Nilai assets bank yang dijaminkan.

G. Kewajiban Laln – lain

17. Kewajiban lain-lain merupakan pos yang dimaksudkan untuk menampung kewajiban-kewajiban bank yang tidak dapat digolongkan ke dalam salah satu pos tersebut di atas dan tidak cukup material untuk disajikan dalam pos tersendiri, antara lain seperti setoran jaminan.

H. Pinjaman Subordinasl

18. Pinjaman subordinasi adalah pinjaman yang diperoleh berdasarkan suatu perjanjian antara bank dengan pihak lain yang hanya dapat dilunasi apabila bank telah memenuhi kewajiban tertentu, dan hak tagihnya berlaku paling akhir dari semua simpanan dan pinjaman yang diterima dalam hal terjadi likuidasi.

19. Pinjaman Subordinasi disajikan sebesar saldo pinjaman subordinasi yang belum dilunasi pada tanggal laporan.

20. Hal-hal tersebut di bawah ini wajib diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan:

a. Tingkat suku bunga
b. Jangka waktu dan jatuh tempo
c. Jenis valuta (Rupiah & Valuta asing)

d. Perikatan yang menyertainya

I. Modal Pinjaman

21. Modal pinjaman adalah pinjaman yang didukung dengan menggunakan instrumen yang disebut capital notes, loan stock atau warkat lain yang dipersamakan dengan itu, dan mempunyai sifat seperti ekuitas .

22. Modal pinjaman memiliki ciri-ciri sebaqai berikut:

a. Tidak dijamin oleh bank penerbit (issuer) dan sifatnya dipersamakan dengan ekuitas (subordinated) serta telah dibayar nenuh.
b. Tidak dapat dilunasi atau ditarik atas inisiatif pemilik (pemegang capital notes).

c. Mempunyai kedudukan yang sama dengan ekuitas dalam hal jumlah kerugian bank melebihi saldo laba dan cadangan cadangan yang termasuk ekuitas inti, meskipun bank belum dilikuidasi.

d. Pembayaran bunga dapat ditangguhkan apabila bank dalam keadaan rugi atau labanya tidak mencukupi untuk membayar bunga tersebut.

23. Penerbitan warkat modal pinjaman (loan stock atau capital notes) dicatat sebesar nilai nominal. Biaya biaya penerbitan warkat modal pinjaman dapat ditangguhkan dan diamortisasi secara sistimatis selama taksiran jangka waktunya.

24. Modal pinjaman disajikan di neraca antara Pinjaman Subordinasi dan Modal disetor.

25. Hal-hal di bawah ini wajib diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan:

a. Persyaratan-persyaratan modal pinjaman
b. Jumlah lembar
c. Nama pemegang atau pemilik warkat modal pinjaman
d. Hak dan kewajiban bank dan pemegang warkat modal pinjaman.

J. Ekuitas

26. Modal saham
Saham dapat terdiri atas saham biasa, saham preferen dan perkiraan tambahan modal.

27. Saldo laba dikelompokkan menjadi:

a. Cadangan tujuan adalah cadangan yang dibentuk dari laba bersih setelah pajak yang tujuan penggunaannya telah ditetapkan .
b. Cadangan umum adalah cadangan yang dibentuk dari laba bersih setelah pajak yang dimaksudkan untuk memperkuat ekuitas.
c. Saldo laba yang belum dicadangkan terdiri dari:
- Laba-rugi tahun lalu yang belum ditetapkan penggunaannya.
- Laba-rugi tahun berjalan.

28. Ekuitas disajikan sebagai berikut:

Modal disetor

a. Saham biasa
b. Saham preferen

Perkiraan tambahan modal disetor

a. Agio (Disagio)

b. Modal Sumbangan
c. Penyesuaian akibat penjabaran Laporan Keuangan
d. Lainnya

Selisih penilaian kembali aktiva tetap

Saldo Laba

a. Cadangan Tujuan
b. Cadangan umum
c. Saldo laba yang belum dicadangkan.

29. Hal-hal dibawah ini wajib diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan:

a jumlah ekuitas menurut ketentuan otoritas pengawas
b. pembatasan atas pembagian laba.

BAB Vl

AKUNTANSI KOMITMEN DAN KONTINJENSI

Komitmen dan kontinjensi (off balance sheet items) harus disajikan sedemikian rupa sehingga apabila dikaitkan dengan pos pos aktiva dan pasiva neraca dapat menggambarkan posisi keuangan bank secara wajar. Komitmen dan kontinjensi merupakan transaksi yang belum mengubah posisi aktiva dan pasiva bank pada tanggal laporan, tetapi harus dilaksanakan oleh bank apabila persyaratan yang disepakati dengan nasabah terpenuhi. Komitmen dan kontinjensi dapat terdiri atas komitmen dan kontinjensi yang bersifat sebagai tagihan bank serta komitmen dan kontinjensi yang bersifat sebagai kewajiban bank. Komitmen dan kontinjensi tersebut dapat dalam mata uang Rupiah atau mata uang asing.

A. Komitmen

Komitmen adalah suatu perikatan atau kontrak berupa janji yang tidak dapat dibatalkan secara sepihak dan harus dilaksanakan apabila persyaratan yang disepakati bersama dipenuhi. Jenis komitmen keuangan yang lazim antara lain sebagai berikut:

01 Pinjaman yang diterima adalah fasilitas pinjaman yang diterima oleh bank dari bank atau pihak lain dan belum digunakan pada tanggal laporan. Fasilitas pinjaman yang diterima disajikan sebesar sisa fasilitas yang belum ditarik oleh bank.

02. Fasilitas kredit yang diberikan adalah fasilitas kredit yang telah disetujui oleh bank untuk diberikan kepada nasabah dan masih berlaku untuk digunakan oleh nasabah. Fasilitas kredit yang diberikan disajikan sebesar sisa komitmen yang belum ditarik.

03. Kewajiban pembelian kembali aktiva bank yang dijual dengan syarat Repo adalah kewajiban bank untuk membeli kembali aktiva bank pada waktu tertentu yang diperjanjikan. Kewajiban tersebut disajikan sebesar harga pembelian yang disepakati bank dengan nasabah.

04. L/C yang tidak dapat dibatalkan (irrevocable) yang masih berjalan adalah jaminan dalam bentuk penerbitan L/C yang tidak dapat dibatalkan dalam rangka impor dan ekspor atau lalu lintas perdagangan. L/C tersebut disajikan sebesar sisa jumlah L/C yang belum direalisasi.

05. Akseptasi wesel impor atas dasar L/C berjangka yaitu pemberian jaminan dalam bentuk penandatanganan terhadap wesel-wesel impor atas dasar L/C berjangka. Akseptasi wesel tersebut disajikan sebesar nilai nominal wesel yang diaksep.

06. Transaksi valuta asing tunai (spot) yang belum diselesaikan adalah jumlah transaksi valuta asing tunai yang masih belum diselesaikan pada tanggal laporan. Transaksi tersebut wajib dilaporkan dalam Laporan Komitmen dan Kontinjensi dan dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah dengan menggunakan kurs tengah pada tanggal laporan.

07. Transaksi Valuta Asing Berjangka (forward /future):

a. Saldo tagihan atau kewajiban yang timbul dari transaksi valuta asing berjangka wajib dilaporkan dalam laporan komitmen dan kontinjensi dan dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah dengan menggunakan kurs tengah pada tanggal laporan.

b. Hal-hal di bawah ini wajib diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan:

- Besarnya nilai kontrak berjangka jual dan beli dalam masing-masing mata uang asing.
- Rata-rata jangka waktu kontrak.
- Besarnya taksiran kerugian karena transaksi valuta berjangka dalam rangka trading. Taksiran kerugian tersebut merupakan selisih antara kurs berjangka yang diperjanjikan dengan kurs tunai pada tanggal neraca.

B. Kontinjensi

Kontinjensi adalah tagihan atau kewajiban bank yang timbulnya tergantung pada terjadi atau tidak terjadinya satu atau lebih peristiwa di masa yang akan datang. Jenis tagihan atau kewajiban kontinjen lazim dewasa ini antara lain seperti di bawah ini.

08. Garansi bank adalah semua bentuk garansi atau jaminan yang diterima atau diberikan oleh bank yang mengakibatkan pembayaran kepada pihak yang menerima jaminan apabila pihak yang dijamin bank cidera janji.

Garansi bank antara lain berupa:

a. Penerimaan atau penerbitan jaminan dalam bentuk bank garansi baik dalam rangka pemberian kredit, risk sharing dan standby L/C maupun dalam rangka pelaksanaan proyek seperti bid bonds, performance bonds dan advance payment bonds.
b. Akseptasi atau endosemen surat berharga yaitu pemberian jaminan atau garansi dalam bentuk penandatanganan kedua dan seterusnya atas wesel dan promes atau aksep.

09. Garansi bank yang masih berlaku pada tanggal laporan baik yang diterima maupun yang diterbitkan oleh bank, disajikan dalam komitmen dan kontinjensi sebesar nilai nominal jaminan.

10. Garansi bank atau jaminan yang diterbitkan secara sindikasi dilaporkan dalam komitmen dan kontinjensi sebesar pangsa jaminan bank yang bersangkutan.

11. Hal-hal di bawah ini perlu diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan:
- jumlah garansi bank yang diterima dan diberikan dalam rangka penerimaan kredit luar negeri dan kredit dalam negeri.
- jumlah garansi yang memperoleh contra garansi dari bank lain.
- jumlah “corporate guarantee” yang diterbitkan.

12. L/C yang dapat dibatalkan (revocable) yang masih berjalan adalah jaminan dalam bentuk penerbitan L/C yang dapat dibatalkan dalam rangka impor dan ekspor atau lalu lintas perdagangan. L/C tersebut disajikan sebesar sisa jumlah L/C yang belum direalisasi.

13. Transaksi Opsi Valuta Asing. Transaksi opsi valuta asing yang masih berjalan (outstanding) pada tanggal laporan, wajib dilaporkan dalam laporan Komitmen dan Kontinjensi dan dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah dengan menggunakan kurs tengah pada tanggal laporan.

14. Pendapatan bunga dalam penyelesaian adalah perhitungan bunga dari aktiva produktif non performing yang belum dapat diakui sebagai pendapatan bunga dalam periode berjalan.

About these ads
Comments
  1. narulita says:

    bukannya PSAK 31 sudah dicabut y, dan diganti dengan PSAK 50 & 55, mohon info..thx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s